Baca Sains Tanpa Sinis
Anti-Intelektualisme, Alasan Kita Sulit Mendengar Pandangan yang Berbeda

Anti-Intelektualisme, Alasan Kita Sulit Mendengar Pandangan yang Berbeda

Belakangan ini, susah banget kayaknya memenangkan argumen. Meskipun sudah disajikan data dan fakta saintifik yang jelas, banyak orang yang menolaknya mentah-mentah. Ini lah fenomena anti-intelektualisme.

Jangankan memenangkan argumen, berdebat sehat dengan alur logika yang runut dan fakta yang jelas saja sulit sekali hari ini.

Padahal, fakta sains itu bisa diuji sendiri kebenarannya kalau emang nggak percaya. Banyak orang lebih meyakini mitos atau hoaks daripada fakta. Ada apa dengan manusia hari ini?

Kita sering menjumpai ejekan semacam ”ah, teori”, ”cuma bisa ngomong teori doang”. Ejekan semacam itu mencerminkan sikap anti-intelektualisme.

Nah, anti-intelektualisme adalah pandangan, sikap, dan tindakan yang merendahkan ide-ide, pemikiran, kajian, telaah, riset, fakta, diskusi, hingga debat. Istilah ini dipopulerkan oleh intelektual abad ke-20, Richard Hofstadter.

Richard Hofstadter yang mempopulerkan istilah anti-intelektualisme
Intelektual dan pemikir besar, Richard Hofstadter

Dalam rumusannya, anti intelektualime diindikasikan dengan perendahan, purbasangka, penolakan, dan perlawanan yang terus-menerus, ajek, serta konstan terhadap dunia ide dan siapa pun yang dianggap menekuninya.

Turunan dari hal itu adalah syak wasangka yang akut terhadap filsafat, sains, sastra, dan seni – pendeknya: mencurigai teori.

Banyak sekali fenomena yang terjadi di sekitar kita tentang anti-intelektualisme. Terutama dari kaum yang senang sekali pada teori konspirasi dan menganggapnya sebagai kebenaran satu-satunya.

Dari pendakwah teori bumi datar, penolak teori evolusi, kontrasepsi, hingga mereka yang nggak percaya dengan pandemi Covid-19. Lucu bukan?

Tetapi mereka ini benar-benar eksis! Semakin lucu lagi jika melihat ranah politik, makin banyak lagi orang-orang anti-intelektualisme yang lucu-lucu ini berdebat bukan dengan logika, tapi main ngotot-ngototan. Siapa yang lebih ngotot, dia yang menang.

Orang-orang semacam ini bakal susah banget diajak berdiskusi mencari kebenaran. Sebab, orang-orang ini mendasarkan kebenaran pada apa yang diyakininya saja. Bukan berdasarkan bukti.

Dalam penelitiannya tahun 1956, Leon Festinger menemukan bahwa orang cenderung untuk menyimpulkan sesuatu berdasarkan kemauan dan keyakinannya saja.

Singkatnya begini: Ketika kita ingin meyakini sesuatu, kita akan mencari pembenaran dengan bukti. Ya, walaupun bukti-bukti itu meragukan, kita akan cenderung membenarkannya.

Sebab, pembenaran itu mengurangi kecemasan kita. Dan yang terpenting membuat kita berhenti untuk berpikir lebih dalam. Berpikir itu memang melelahkan, bagi sebagian orang.

Jonathan Haidt dalam jurnalnya tahun 2001, menyimpulkan bahwa penalaran kita sebetulnya bekerja seperti pengacara yang membela kliennya. Ia akan mencari segala macam pembenaran untuk membebaskan kliennya.

Kliennya adalah keyakinan kita. Jadi, rumusnya kurang lebih begini: ketika kita ingin meyakini sesuatu, kita menginstruksikan penalaran untuk mencari pembenaran. Rumus ini berlaku untuk orang yang mengidap anti-intelektualisme.

Frey, Stahlberg, dan Fries (1986) dalam penelitiannya menemukan bahwa orang-orang yang memiliki skor IQ rendah cenderung mencari pembenaran dengan membaca artikel-artikel yang mengkritisi tes IQ.

Ya, mereka secara nggak langsung nggak terima kalau IQ-nya rendah, sehingga mencari pembenaran bahwa tes IQ itu kurang valid.

Ditto dan Lopez (1992) pada penelitiannya tentang tes kesehatan, menemukan bahwa peserta yang mendapat diagnosa yang nggak diinginkan mencari pembenaran tentang kesalahan tes tersebut.

Berbeda dengan peserta yang dinyatakan sehat, mereka langsung terima saja dan nggak nyari pembenaran. Toh, sudah sesuai dengan kemauannnya kok.

Masih banyak penelitian yang menemukan hasil serupa. Penelitian-penelitian baru di atas tahun 2000 pun banyak. Tapi, percuma saya menyajikan semua hasil penelitian disini jika dasarnya memang nggak percaya. Susah juga jadinya.

Jonathan Haidt dalam bukunya “The Righteous Mind: Why Good People Are Divided by Politics and Religion,” menuliskan bahwa gejala semacam ini membuat ilmuwan sakit kepala.

Kurang lebih begini katanya:

“Saat ini hampir semua orang memiliki akses terhadap mesin pencari (Google) pada ponselnya. Apapun yang ingin Kamu percaya tinggal cari di Google. Dan, Bingo! Kamu mendapat pembenaran dari apa yang ingin Kamu percaya.”

Apa Kamu merasa cukup cerdas untuk terhindar dari penalaran untuk mencari pembenaran? Merasa cukup kritis untuk terhindar dari anti-intelektualisme? Neurosaintis dari Amerika, Steven Novella mengatakan bahwa justru orang pintar lebih baik dalam hal ini.

Maksudnya, lebih baik dalam penalaran untuk mencari pembenaran. Sebab, jika Kamu lebih teredukasi, maka Kamu memiliki lebih banyak wawasan. Kamu lebih mampu berpikir kritis. Dan semua itu adalah bahan bakar yang sangat baik bagi nalar pengacaramu.

Jadi, memang sifat alamiah penalaran adalah seperti pengacara. Ia menjadi pembela mati-matian untuk kliennya. Sekarang, kembali pada diri sendiri. Mau dijadikan apa penalaran kita?

Mau jadi pengacara yang hidup enak dengan menerima semua permintaan klien? Atau jadi pengacara idealis yang hidup agak menderita tapi membela yang benar?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Evidensi