Baca Sains Tanpa Sinis
Penjelasan Sederhana Tentang Apa Itu Algoritma

Penjelasan Sederhana Tentang Apa Itu Algoritma

Algoritma sudah menjadi sebuah kata-kata yang sangat umum didengar, apalagi kalau kamu generasi milenial ke bawah yang bisa dikategorikan sebagai digital native.

Sebagai generasi yang hidup di era digital, kita gak mungkin bisa lepas dari apa yang namanya algoritma. Dari menjadi penunjuk jalan di Google Maps, pemandu rekomendasi di YouTube hingga menjadi penghibur di explore Instagram. .

Eh tapi, apakah kamu tahu apa yang disebut dengan algoritma? Kalau belum, ini artikel yang tepat untuk perkenalan pertama dengannya.

Menurut Pedro Domingos, seorang profesor sains komputer dari University of Washington, algoritma merupakan sekumpulan instruksi yang spesifik. Udah gitu aja. Sederhana kan?

Begini contoh algoritma sederhana:

  1. Siapkan cangkir untuk membuat kopi
  2. Tuangkan satu sendok makan kopi hitam
  3. Tuangkan satu sendok teh gula pasir
  4. Tuangkan air sampai hampir penuh
  5. Aduk hingga rata

Dan seterusnya. Ini adalah contoh algoritma yang sangat sederhana dan biasa kita temui di semua resep makanan. Iya, semua resep makanan pada dasarnya adalah algoritma.

Kalau mau sedikit lebih kompleks, tambahkan lagi instruksi “jika” dan “maka”. Misal, “jika” kamu ingin kopi lebih manis, “maka” tuangkan dua sendok teh gula pasir.

Ingat, sebuah resep gak akan bisa membuat kopi, harus ada seseorang yang membaca resep dan mengikuti langkah-langkah yang diresepkan.

Tetapi, kamu bisa membangun sebuah mesin yang menampung algoritma ini dan mengikutinya secara otomatis. Kemudian kamu hanya butuh menyediakan kepada mesin itu aliran listrik dan bahan-bahannya. Dan, ia akan menyiapkan kopi sendiri setiap kali kita memerintahkannya.

Bagaimana Algoritma Menjadi Cerdas?

Mesin kopi hanya menjalankan sekumpulan instruksi sederhana. Boleh dikatakan, algoritma yang ada pada mesin kopi belum begitu cerdas.

Nah, berkat kehadiran komputer, algoritma menjadi sangat kompleks. Sebab, komputer mampu menjalankan jutaan baris instruksi dengan cepat. iPhone 6 yang rilis tahun 2015 saja memiliki kemampuan mengolah 3,36 miliar instruksi per detik!

Misalnya, kita meminta bantuan Google Maps untuk memberi tahu jalan menuju lokasi A. Maka, Google Maps menjalankan algoritmanya untuk mencari jalan tercepat menuju lokasi A. Ada banyak sekali instruksi yang dihitung lewat satu aplikasi.

Ia akan menghitung jarak tempuh, kecepatan rata-rata, tingkat kemacetan, kemungkinan jalan, citra satelit dan banyak kemungkinan lainnya. Sehingga mendapatkan hasil, kita akan menuju lokasi A lewat jalan 1, 2, 3, 4, dan sebagainya dalam waktu kurang lebih 25 menit.

Bahan-bahan yang digunakan dalam aplikasi bukan bahan makanan seperti mesin pembuat kopi. Bahannya adalah data-data yang dikumpulkan dari banyak sumber.

Nah, algoritma dengan pasokan data yang banyak dan saling terhubung biasa kita sebut sebagai kecerdasan buatan, atau bahasa kerennya artificial intelligence (AI). Dari sini lah kemajuan teknologi saat ini bersandar.

Mulai dari timeline YouTube, Instagram, mesin pencari Google, hingga pencarian driver di aplikasi Gojek. Semuanya menggunakan algoritma di dalamnya. Perusahaan yang bergerak di bidang teknologi, pasti menggunakan kecerdasan buatan untuk meningkatkan performanya.

Gak ada yang tahu teknis algoritma YouTube, Instagram dan Google bekerja. Kenapa bisa gak ada yang tahu? Kan yang bikin juga manusia?

Sebab, algoritmanya bukan lagi ditulis sama manusia. Tetapi oleh kecerdasan buatan. Bagaimana mungkin kecerdasan buatan bisa menulis instruksi untuk dirinya sendiri? Salah satu fitur terbaik kecerdasan buatan adalah belajar dan memperbaiki diri sendiri agar menjadi lebih baik.

Semakin banyak data yang dipelajari, maka kecerdasan buatan akan semakin cerdas. Kalau mereka diberi instruksi untuk memperbaiki diri, maka seiring berjalannya waktu dan data, mereka akan belajar dari kesalahan dan semakin cerdas.

Nah, pada timeline Youtube, Instagram, Google dan lain sebagainya, mereka menghitung dari aktivitas kita di smartphone, apa yang kita like, apa yang kita lihat dengan lama, apa yang kita skip, dan lain sebagainya.

Ada banyak sekali faktor yang membentuk timeline. Tujuannya adalah menampilkan apa yang menurut mereka adalah sesuatu yang paling relate dan relevan untuk kita.

Sesuatu yang relate dan relevan akan membuat kita semakin lama untuk berselancar disana. Semakin lama kita berselancar, semakin banyak data yang diperoleh. Dari data tersebut, kemudian bisa disimpulkan apa yang kita suka dan gak suka.

Nah, setelah mendapat profil diri kita, mereka bisa menampilkan iklan yang tepat sasaran sesuai dengan apa yang kita suka. Semakin lama kita berselancar, semakin banyak data yang disedot dan semakin banyak aplikasi tersebut mendapat keuntungan.

Jadi jangan mengira kalau aplikasi gratis itu benar-benar gratis. Mereka meminta bayaran dengan data-data yang kita berikan. Mulai dari data diri, email, KTP dan lain-lain sampai data kita saat menggunakan smartphone.

Eits, udah kejauhan ya. Untuk lebih lengkapnya soal yang begitu-begitu, coba aja tonton The Social Dilemma di Netflix.

The Social Dilemma, film yang menceritakan tentang sisi gelap algoritma

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Evidensi