Baca Sains Tanpa Sinis
Benarkah Uang Bisa Membeli Kebahagiaan?

Benarkah Uang Bisa Membeli Kebahagiaan?

Apakah uang bisa membeli kebahagiaan? Ini adalah perdebatan klise yang sudah bertahan mungkin sejak berabad-abad lamanya. Pemenang Nobel Ekonomi tahun 2002, Dr. Daniel Kahneman dan pemenang nobel Ekonomi tahun 2015, Dr. Angus Deaton pernah melakukan penelitian tentang hal ini.

Ia melakukan penelitian dengan menganalisis 450.000 jawaban orang tentang kebahagiaan dari tahun 2008 dan 2009. Kesimpulannya, kebahagiaan adalah hasil dari pemenuhan dua kondisi psikologis: kesejahteraan emosi dan evaluasi hidup.

Lah, tidak ada hubungannya dengan uang dong? Sebentar dulu, Sob. Kami jelaskan dulu dua kondisi psikologis yang mempengaruhi kebahagiaan tadi sebelum menjawab pertanyaan apakah uang bisa membeli kebahagiaan.

Kesejahteraan Emosi

Kesejahteraan emosi diterjemahkan dari bahasa Inggris, emotional well-being. Artinya, kesejahteraan emosi adalah kualitas emosi dari pengalaman sehari-hari. Jika pada hari ini pengalamannya negatif, maka kesejahteraan emosi akan terpengaruh. Begitu pula sebaliknya.

Kesejahteraan emosi yang baik diperoleh dari interaksi sosial yang baik. Menurut Dr.Kahneman, cara terbaik untuk mendapatkannya adalah dengan meluangkan waktu bersama orang-orang terdekat. Intinya adalah kebersamaan. Tidak selalu menganggap bahwa uang bisa membeli kebahagiaan.

Kebersamaan bersama orang-orang terdekat tidak selalu dengan mengeluarkan banyak uang kok. Teman-teman yang tepat pasti mau bercengkerama denganmu meskipun hanya sederhana.

Perasaan kesepian meskipun kamu sangat kaya adalah hal yang sangat buruk. Kesepian dapat memperburuk kesehatan mental dan fisik. Tidak heran banyak orang kaya yang depresi dan melakukan bunuh diri meskipun kaya raya.

Evaluasi Hidup

Kesejahteraan emosi adalah perasaan jangka pendek. Sedangkan, evaluasi hidup merupakan perasaan jangka panjang. Artinya, evaluasi hidup membutuhkan pandangan jangka panjang tentang kehidupan secara keseluruhan.

Evaluasi hidup diperoleh dari hasil perenungan seseorang terhadap hidup dan pencapaian mereka. Hal ini sangat dipengaruhi oleh tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Jika tujuan-tujuan dalam hidupnya tercapai, maka evaluasi hidupnya pun akan tinggi. Begitu pula sebaliknya.

Menurut Dr.Kahneman, menetapkan tujuan hidup yang realistis dan bisa tercapai sangat baik terhadap tingkat evaluasi hidup. Orang-orang yang lulus kuliah, menikah dan memiliki pekerjaan yang bagus melaporkan tingkat evaluasi hidup yang baik.

Jadi, kesejahteraan emosi sangat berhubungan dengan pengalaman kita sehari-hari berdasarkan pengalaman. Kalau evaluasi hidup adalah pikiran kita tentang pencapaian-pencapaian hidup dibandingkan dengan tujuan yang sudah kita tetapkan sebelumnya.

Uang Bisa Membeli Kebahagiaan?

Ada satu temuan yang menarik dari studi Dr.Kahneman dan Dr.Deaton tersebut. Ternyata, untuk dapat bahagia kamu membutuhkan sejumlah uang. Kamu pasti setuju dengan hal ini, bukan? Tanpa penelitian juga kita tahu bahwa uang bisa membeli kebahagiaan.

Dalam penelitian tersebut, tingkat kebahagiaan seseorang meningkat seiring dengan banyaknya pendapatan yang dimiliki. Jadi, semakin besar pendapatan, semakin tinggi tingkat kebahagiaannya. Jadi jawabannya: iya, uang bisa membeli kebahagiaan.

Tunggu dulu, grafik kebahagiaan dan pendapatan berjalan beriringan hanya sampai angka pendapatan $75.000 per tahun. Memiliki pendapatan lebih dari $75.000 per tahun, tidak berpengaruh lagi terhadap kebahagiaan.

Artinya, ketika berada di tahap kehidupan yang cukup aman dan nyaman secara finansial, anggapan bahwa uang bisa membeli kebahagiaan menjadi keliru.

Pada tahap tersebut, dua kondisi psikologis yang tadi sudah dibahas berperan penting dalam kebahagiaan seseorang. Tapi, ketidakcukupan finansial juga sangat berpengaruh terhadap kebahagiaan. Kalau tidak punya uang, nyaris pasti kamu tidak akan bahagia.

Bagaimana mau bahagia kalau makan saja sulit? Kan begitu logikanya.

Ingat, penelitian tersebut dilakukan di kota-kota besar Amerika Serikat yang memiliki biaya hidup tinggi dan cukup jauh jika dibandingkan dengan biaya hidup di kota-kota besar Indonesia. Bisa dibilang pendapatan $75.000 atau setara kurang lebih 1 miliar rupiah per tahun tidak sebanding.

Angka pendapatan ini juga tidak absolut. Setiap daerah memiliki biaya hidup yang berbeda-beda. Sebagai contoh, studi lain menyebutkan di Amerika Selatan, pendapatan untuk dapat bahagia sekitar $35.000 per tahun. Bagaimana dengan di Indonesia?

Berapa Pendapatan agar Bisa Bahagia di Indonesia?

Jika pendapatan per tahun adalah $75.000 atau setara kurang lebih 1 miliar rupiah, artinya kira-kira orang Indonesia harus memiliki pendapatan sekitar 80 juta rupiah per bulan. Dalam konteks Indonesia, angka tersebut cukup spektakuler.

Jangan kaget dulu. Mari kita berhitung untuk mendapatkan angka pendapatan yang cocok dengan Indonesia. Kita mulai dari upah minimum (UMR) di Amerika Serikat dan membandingkannya dengan UMR di Indonesia.

UMR di Amerika Serikat itu ada di angka $7,25 per jam. Jika dalam sehari bekerja selama 8 jam, maka dalam sebulan UMR Amerika Serikat berada di angka $1.275. Berarti, dalam setahun orang Amerika Serikat yang bergaji UMR mengantongi kurang lebih $15.000.

Untuk bisa mendapatkan kebahagiaan, seseorang di Amerika Serikat kurang lebih harus memiliki gaji 5 kali lipat dari UMR. $15.000 x 5 = $75.000.

Mari kita konversikan ke rupiah. UMR di Indonesia memang berbeda-beda tiap daerah, tapi kali ini kami menghitung dengan menggunakan UMR DKI Jakarta pada tahun 2021, yaitu sekira Rp 4,4 juta.

Jika untuk mendapatkan kebahagiaan membutuhkan 5 kali lipat gaji, artinya jika kamu tinggal di DKI Jakarta, kamu membutuhkan pendapatan sekitar Rp 22 juta per bulan atau Rp 264 juta per tahun! Terlihat cukup fantastis, tapi sepertinya masih agak realistis.

Jadi, uang bisa membeli kebahagiaan dengan pendapatan Rp 22 juta per bulan. Dengan uang segitu, kamu bisa memenuhi kebutuhan pokok, mencicil rumah, kendaraan dan membiayai pendidikan anak.

Tidak perlu sampai menjadi crazy rich yang memiliki pendapatan ratusan juta per bulan untuk bisa bahagia, Sob! Namun, sebanyak apapun pendapatan yang kamu miliki, tidak akan pernah merasa cukup kalau kamu terus menerus ikut-ikutan tren dan mengikuti nafsu belanja yang tak akan pernah ada habisnya.

uang bisa membeli kebahagiaan
Belanja terus menerus tidak memberikan kebahagiaan yang hakiki

Ketika belum mencapai pendapatan sekitar Rp 22 juta per bulan, kamu akan memiliki keyakinan yang kuat bahwa uang bisa membeli kebahagiaan. Lain cerita kalau kamu berbicara dengan orang yang memiliki pendapatan jauh di atas Rp 22 juta per bulan. Sebab, mereka mulai merasakan bahwa uang bukanlah satu-satunya sumber kebahagiaan.

Mendapatkan Kebahagiaan

Dr.Kahneman mengatakan bahwa studi yang dilakukannya dapat memberikan saran bagi seseorang yang ingin mendapatkan kebahagiaan.

“Saya malu memberikan saran untuk mencapai kebahagiaan, karena itu benar-benar sederhana, yaitu tingkatkan hubunganmu dengan orang lain.”

Dr. Kahneman

Saran tersebut terdengar sangat klise, tapi sebagai makhluk sosial memang manusia secara tidak sadar sangat membutuhkan interaksi sosial. Uang adalah alat untuk memperoleh tujuan, termasuk untuk memenuhi kebutuhan dasar bertahan hidup seperti rumah, pakaian dan makanan.

Daniel Kahneman menjelaskan bahwa uang bisa membeli kebahagiaan
Pemenang Hadiah Nobel Ekonomi tahun 2002, Daniel Kahneman

Banyak dari kita yang terjebak dalam pencarian uang berlebihan. Sebetulnya, yang mereka kejar adalah interaksi sosial berupa penghargaan dari masyarakat. Dengan mengenakan barang-barang mewah, kita bisa memperoleh pengakuan dari masyarakat. Dan, ini adalah bagian dari interaksi sosial.

Padahal, interaksi sosial yang sehat tidak membutuhkan itu semua. Kita hanya perlu komunikasi, perhatian dan kasih saya dari orang-orang terdekat. Jika kita bisa memahami kunci interaksi sosial, kita tidak lagi terjebak dalam pencarian harta berlebihan hanya untuk mendapatkan pengakuan sosial.

Tetapi, tidak ada salahnya mengejar kekayaan yang berlimpah selama kamu bisa mengelolanya dengan baik. Karena, dengan kekayaan kamu juga bisa banyak membantu orang lain yang lebih membutuhkan.

Yang penting, jangan sampai pencarianmu akan harta membutakan dan mengganggu work life balance hingga menyebabkan kamu jatuh sakit baik secara fisik maupun mental. Apa lagi kalau sampai merusak hubungan sosial-mu. Bukannya mendapatkan kebahagiaan kamu malah bisa jadi sengsara.

Kesimpulannya, uang memang bisa membeli kebahagiaan sampai tahap tertentu. Tetapi, hal yang lebih penting untuk mendapatkan kebahagiaan adalah kesejahteraan emosi dan evaluasi hidup yang sangat dipengaruhi oleh hubungan sosial.

Untuk bahagia sederhana kok, Sob! Yuk jangan lupa bahagia. Simak terus blog dan instagram Dompet Kilat untuk mendapatkan informasi seputar dunia kerja, keuangan, ekonomi, bisnis dan lain sebagainya.

Referensi:

Bloomberg (2021) | It Seems Money Does Buy Happiness After All

Gallup (2011) | Happiness is Love – and $75.000

Insider (2020) | Money can Buy Happiness: Here’s how much you need and how to spend it

Money (2018) | This Is the Amount of Money You Need to Be Happy, According to Research

U.S Department of Labor | Minimum Wage

World Economic Forum (2015) | Can Money Buy You Happiness?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Evidensi