Baca Sains Tanpa Sinis
Mengatasi Kemalasan dengan Efektif dari Perpektif Evolusi

Mengatasi Kemalasan dengan Efektif dari Perpektif Evolusi

Mengatasi kemalasan merupakan salah satu hal yang paling sulit, apa lagi dalam kondisi work from home (WFH). Temuan yang dilansir dari CNBC mengatakan bahwa jam kerja karyawan saat WFH bertambah 3 jam lebih lama dari pada di kantor.

Bertambah lamanya jam kerja disebabkan dari kepayahan kita mengatur waktu. Di rumah, banyak sekali distraksi yang berpotensi mengganggu fokus untuk bekerja dan mengundang rasa malas.

Distraksi ini menggoda kita lebih baik dibandingkan kemauan bekerja. Misalnya, kita melihat cuplikan bagus di TV dan tanpa disadari malah berlarut-larut menyaksikannya dan lupa menyelesaikan kerjaan.

Bisa juga berencana rehat sejenak ke lini masa media sosial atau Youtube, eh tapi malah keasikan scrolling sampai lupa kerjaan. Hal-hal sepele macam ini membuat kita menunda pekerjaan dan berimbas pada bertambahnya waktu kerja.

scrolling lini masa media sosial dan mengabaikan pekerjaan
Lebih memilih mengintip media sosial dari pada bekerja

Apakah ini juga terjadi pada kamu?

Dinamika psikologis seperti apa yang terjadi dalam diri? Kenapa kita lebih mudah tergoda pada hal-hal sepele? Kenapa kita gagal mengatasi kemalasan dan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu?

Melihat Kemalasan Lewat Psikologi Evolusioner

Pertama-tama, harap dipahami bahwa semua makhluk hidup adalah produk dari evolusi. Di bumi, semua makhluk hidup berasal dari organisme bersel satu sekitar 3,5 miliar tahun yang lalu. Nggak percaya? Nggak masalah.

Fakta tetaplah menjadi fakta meskipun ratusan juta orang nggak percaya. Seperti halnya gravitasi, mau setengah penduduk bumi nggak percaya, gravitasi tetap ada. Begitu juga evolusi. Teori evolusi sangat kokoh dalam dunia sains.

Nah, manusia adalah makhluk biologis yang juga tercipta dari evolusi selama jutaan tahun. Kurang lebih 6-7 juta tahun yang lalu, nenek moyang manusia memisahkan diri dari kerabat “kera besar”. Australopithecus nama spesiesnya, yang menurunkan berbagai spesies Homo, termasuk Homo sapiens (manusia modern) seperti kita.

Rekonstruksi Australopithecus (Images: © Jose Garcia And Joannes-Boyau)

Tapi bagaimana mungkin, perilaku manusia yang lahir dari kehendak bebas termasuk produk evolusi yang kaku dan deterministis?

Proses evolusi itu bekerja pada level paling dasar makhluk hidup, yaitu DNA yang membentuk gen dan kemudian membentuk sel. Nah, nggak ada satu pun perilaku manusia yang lahir tanpa melibatkan sel otak.

Fungsi DNA adalah membawa informasi secara turun temurun. Dari informasi ini lah, struktur biologis kita terbentuk, termasuk otak. Jangan lupa bahwa sel otak terbentuk dari gen-gen yang merupakan produk evolusi.

Jadi, kita pun masih membawa sebagian informasi yang sama dengan binatang. Misal, semua ibu mamalia membawa informasi untuk menyusui dan menyayangi anaknya. Mau itu kucing kek, tikus kek, kambing kek, bahkan manusia pasti secara naluriah akan menyusui anaknya.

Ya, mamalia berasal dari kata latin mamma, yang artinya payudara, tetek, toket and you name it.

Contoh lagi, perilaku makan dan minum. Siapa yang mengajarkan bayi untuk mengenyot tete ibunya? Otak bayi belum cukup berkembang untuk belajar secara verbal. Nggak ada yang mengajarinya.

Informasi dalam gen lah yang mengajarkan demikian. Sama seperti bayi sapi, kucing, anjing, monyet dan lain sebagainya. Mengenyot tete ibu adalah informasi yang ada di semua mamalia.

Begitu juga dengan seks. Nggak perlu belajar pun seharusnya kita tahu gimana caranya membuat anak. Tapi sekarang manusia banyak belajar dari video bokep.

Padahal kucing yang (saya berani bertaruh) belum pernah nonton bokep pun paham cara melakukan seks. Informasi tata cara seks terkandung dalam gen secara turun temurun.

Masih banyak lagi sebetulnya perilaku yang diinformasikan oleh gen secara turun-temurun. Biasanya, perilaku yang diturunkan gen ini susah banget dilawan. Boleh dibilang hukum alam.

Tapi, manusia adalah satu-satunya spesies yang ahli dalam hal ini. Contohnya: menggunakan kontrasepsi ketika berhubungan seks. Manusia berhasil merekayasa hukum alam! Kemampuan merekayasa ini lah yang menjadikan manusia berbeda dibandingkan binatang lainnya.

Cukup sudah ya contohnya. Kurang lebih sudah paham kan konsep dasar psikologi evolusioner? Intinya, banyak perilaku kita saat ini adalah hasil turunan dari nenek moyang binatang kita.

Nah, jangan-jangan kemalasan merupakan informasi yang diturunkan secara genetik oleh leluhur-leluhur kita. Sial betul kita yang sepertinya menurunkan “gen malas” dengan porsi yang luar biasa banyak!

Mari kita coba menggunakan kacamata binatang agar lebih mudah memahaminya. Meskipun sebenarnya berbahaya, terkesan menggampang-gampangkan yang susah. Tapi, ya nggak apa-apa lah ya biar lebih mudah dipahami.

Kalau kita jadi binatang, apa yang gampang adalah baik. Bermalas-malasan, makan seadanya, kawin sesukanya, dan hal-hal gampang yang lain adalah baik. Nggak perlu repot-repot memikirkan hari esok. Ideologi binatang adalah gampangisme!

Kenapa kita malas menyelesaikan skripsi? Kenapa kita malas mengerjakan tugas? Kenapa kita malas menyelesaikan pekerjaan? Karena susah! Perlu berpikir keras, perlu fokus lebih, perlu konsentrasi dan lain sebagainya.

Ilustrasi malas dalam bekerja

Mending buka instragram, Youtube, Netflix, chatting, ngopi dan hal-hal gampang lainnya. Sudah gampangm, menyenangkan pula. Ya, yang lebih gampang memang selalu jauh lebih menarik. Sebab, inilah informasi yang diturunkan gen dalam kepala kita.

Binatang cenderung menghindari sesuatu yang sulit. Kecuali, jika nggak ada pilihan lain yang membuat dirinya nggak bisa bertahan hidup. Nggak bisa makan, minum, dan seks. Baru deh dia mau melawan rasa malasnya.

Tapi, bukankah tanpa seks bisa tetap hidup? Bagi binatang, lebih baik mati daripada nggak berhubungan seks! Lihat saja singa jantan, rela mempertaruhkan nyawa melawan singa lain untuk berebut betina.

Contoh yang lebih ekstrem lagi adalah belalang sembah, rela dibunuh oleh pasangannya hanya untuk kenikmatan sesaat berhubungan seks. Eh, bukan hanya singa dan belalang sembah, manusia pun banyak yang rela mati demi seks cinta.

Nah, banyak manusia yang melakukan hal yang sama pada kemalasan. Kita malas sekali melakukan sesuatu sampai ketika nggak ada pilihan lain!

Kita menunda-nunda pekerjaan sampai dekat dengan deadline. Kenapa begitu? Karena nggak ada pilihan lain! Daripada diomelin atasan yang bisa berujung pemecatan, mending kerjain aja.

Kalau malas, kita bisa disemprot oleh atasan, dipotong gaji, hingga dipecat! Kalau dipecat kan kita terancam sulit untuk bertahan hidup. Toh, kerja saja susah untuk memenuhi semua kebutuhan hidup, apa lagi nggak kerja. Mau makan apa?

Deadline secara nggak langsung berubah menjadi monster yang menakut-nakuti kita untuk menyelesaikan pekerjaan agar tetap bertahan hidup.

Dengan alasan itu, sebagian kita rela bekerja minimal delapan jam per hari! Mencari bos dan deadline di luar diri sendiri. Padahal kalau dipikir-pikir, seandainya kita melakukan hobi kita selama delapan jam sehari, saya yakin sekali Kita pasti sukses!

Penjelasan yang menarik tentang monster deadline

Tapi kenapa kita nggak coba berkarya atau merintis usaha? Lagi-lagi jawabannya: karena itu susah! Apalagi nggak ada sosok “bos” yang menciptakan monster bernama deadline. Bisa-bisa kita tenggelam dalam kemalasan.

Belum lagi ditambah dengan ketidakpastian mendapat uang. Pokoknya, susah deh kalau berusaha sendiri. Kalau lagi malas, nggak ada yang ngomelin. Suka nggak suka, kalau mau mencoba merintis usaha sendiri, kita harus bisa mengatasi kemalasan.

Secara nggak langsung dan tanpa disadari, kita mengkalkulasi keberhasilan dalam setiap keputusan. Apa nanti usahanya berhasil? Gimana kalau malah gagal total?

Ya, risiko tinggi seperti berkarya atau merintis usaha membuat kita ketakutan. Ngapain susah-susah ambil risiko tinggi kalau ada pilihan yang lebih gampang? Mendingan kerja aja, ada kepastian yang membuat diri nggak cemas-cemas amat.

Walaupun bekerja dengan orang, rasa malas tetap nggak terhindarkan. Tapi, kan masih ada bos yang bisa kasih monster deadline sehingga memaksa kita untuk menyelesaikan pekerjaan. Dengan begitu, mengatasi kemalasan bisa lebih mudah.

Terakhir, perilaku yang diinformasikan dalam gen memang sulit sekali dilawan. Namun, itu bukanlah hal yang mustahil. Kemampuan istimewa manusia adalah merekayasa hukum alam.

Seandainya kita berhasil memanipulasi monster deadline seperti kita memanipulasi seks dengan kondom, mungkin kita bisa mengatasi kemalasan dan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.

Menjadi bos untuk diri sendiri dan membuat monster deadline sendiri sepertinya adalah cara efektif untuk mengatasi kemalasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Evidensi