Evidensi

Baca Sains Tanpa Sinis

Fakta dan Mitos Seputar Vaksin COVID-19

7 min read
Vaksin COVID-19 masih dibayangi beberapa mitos

Beberapa jenis vaksin untuk mengatasi Covid-19 sudah ditemukan. Dalam waktu dekat, program vaksinasi pun akan dilakukan oleh berbagai negara untuk mengentaskan pandemi Covid-19 yang sudah melanda dunia setahun belakangan ini.

Proses pembuatan vaksin biasanya membutuhkan waktu yang cukup panjang sebelum disuntikkan ke manusia, yaitu sekitar 10 sampai 15 tahun.

Namun, saat ini berkat kemajuan teknologi dan sains, vaksin untuk mengatasi Covid-19 bisa ditemukan kurang dari satu tahun. U.S Food and Drug Administration (FDA) dan European Union (EU) telah memberikan izin bagi vaksin Pfizer dan Moderna untuk disuntikkan pada manusia.

Berbagai Negara di dunia saat ini tengah dalam penelitian untuk menemukan vaksin COVID-19, termasuk Indonesia. Uji klinik vaksin Sinovac, telah masuk tahap III dan selesai melakukan penyuntikan kepada seluruh relawan.

Penelitian tersebut dikawal langsung oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk memastikan keamanan, dan kemanjurannya sebelum nantinya digunakan masyarakat.

Sejauh ini, vaksin dianggap sebagai cara yang paling efektif agar umat manusia secara global berhasil mengatasi pandemi Covid-19 yang sampai saat tulisan ini dibuat sudah menginfeksi lebih dari 78 juta manusia. 

Vaksin juga telah terbukti merupakan cara mencegah infeksi penyakit tertentu dengan efisien dan efektif. Vaksin terbukti mampu mencegah banyak penyakit seperti, BCG, Polio, Hepatitis B, Campak, Rubela, Hib, PCV, Influenza, Dengue dan HPV.

Meskipun begitu masih banyak mitos-mitos beredar seputar vaksin yang dipercaya oleh banyak orang. Hal ini membuat banyak orang menjadi ragu untuk melakukan vaksinasi.

Padahal, program vaksinasi membutuhkan lebih dari 70 persen populasi dunia untuk divaksin agar muncul herd immunity dan membuat virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19 ini tidak lagi bisa menginfeksi manusia.

Mitos-Mitos Seputar Vaksin

Mitos seputar vaksin sebetulnya sudah beredar sejak lama, tidak hanya saat pandemi Covid-19. Informasi sesat muncul dari teori konspirasi. Bahkan di beberapa negara, termasuk negara maju ada gerakan anti vaksin untuk menolak program vaksinasi. Mereka melakukan demonstrasi menolak vaksin berdasarkan informasi sesat mengenai vaksin.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengamini bahwa satu  dari sepuluh ancaman kesehatan global adalah keraguan orang atas vaksin. Berikut mitos-mitos dan informasi sesat mengenai vaksin yang beredar di masyarakat:

  1. Mitos Vaksin Menyebabkan Autisme pada Anak

Mitos bahwa vaksin menyebabkan autisme ini berasal dari tahun 1998. Saat itu ada seorang dokter bedah asal Inggris yang melakukan penelitian dan menemukan bahwa vaksin MMR dapat memicu autisme. Namun, belakangan diketahui bahwa informasi tersebut salah. Dokter yang melakukan penelitian tersebut terbukti memalsukan data.

Sejak saat itu, banyak penelitian yang membuktikan hal sebaliknya, bahwa vaksin tidak ada hubungannya dengan autisme. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan diterbitkan di The Journal of Pediatrics pada tahun 2013 yang melibatkan lebih dari 1.000 partisipan.

2. Mitos Vaksin Memicu Kanker

Adapun mitos terkait vaksin menyebabkan kanker juga tak benar. Vaksin justru dapat melindungi dari kanker, antara lain, vaksin Hepatitis yang terbukti melindungi dari kanker hati dan vaksin HPV terbukti melindungi dari kanker leher rahim atau serviks.

Dalam Dialog Produktif “Vaksin: Fakta dan Hoaks” yang diselenggarakan di Media Center KPCPEN, dr. Dirga Sakti Rambe, Vaksinolog, menjelaskan bahwa mitos vaksin menyebabkan autisme dan kanker itu keliru.

Menurutnya, Tidak ada vaksin yang bisa menyebabkan kanker, malah ada vaksin yang bisa melindungi kanker, vaksin hepatitis B yang bisa melindungi kanker hati, vaksin HPV melindungi kanker mulut rahim, jadi tidak benar vaksin sebabkan kanker.

3. Vaksin Covid-19 Ditanamkan Mikrochip

Mitos yang mengatakan bahwa vaksin Covid-19 ditanam mikrochip ini sebetulnya tidak berdasar. Ia hanyalah asumsi dari para penganut teori konspirasi. Meskipun begitu, survey dari YouGov mengatakan bahwa 28 persen orang Amerika percaya dengan informasi ini.

Informasi ini lekat dengan teori konspirasi yang mengatakan bahwa pendiri Microsoft, Bill Gates yang aktif dalam melakukan donasi pada riset-riset vaksin. Bill Gates sendiri sudah dengan jelas membantah anggapan ini.

Mitos ini berasal dari penelitian yang mendapatkan pendanaan dari The Gates Foundation. Penelitian tersebut memungkinkan ada “tinta istimewa” di dalam vaksin yang bisa disuntikkan saat program vaksinasi.

Meskipun begitu, teknologi tersebut bukan mikrochip seperti anggapan orang. Ia hanya seperti tatto tidak kelihatan untuk menandakan bahwa orang tersebut sudah pernah divaksin.

4. Vaksin Mengandung Zat Berbahaya

Vaksin yang sudah diproduksi massal harus melalui uji klinis. Pelaksanaan uji klinik ini harus memenuhi aspek ilmiah dan menjunjung tinggi etika penelitian sesuai pedoman cara uji klinik yang baik.

Sejauh ini hasil uji klinik fase III dinyatakan aman dan tidak ditemukan reaksi berlebihan. Syarat utama untuk lolos adalah: aman, efektif, stabil, dan efisien dari segi biaya. Artinya panjang prosesnya.

Setelah dinyatakan aman, dipakai oleh masyarakat luas di bawah pengawasan. Di Indonesia, pengawasan akan dilakukan oleh BPOM.  Karena satu saja ada temuan efek samping yang tidak diinginkan itu bisa ditarik dan biasanya itu ketahuan di fase awal saat pengujian.

5. Mitos Vaksin Mengandung Sel Janin Aborsi

Janin memang pernah digunakan pada penelitian vaksin sekitar tahun 1960. Virus perlu inang berupa sel hidup untuk bisa bertahan dan berkembang biak. Dalam pembuatan vaksin, virus memang akan menginfeksi sel hidup dan diproduksi berulang-ulang sampai ditemukan vaksin yang benar-benar efektif.

Namun, berkat kemajuan teknologi saat ini. Peneliti tidak membutuhkan aborsi untuk mendapatkan sel inang virus tersebut. Kemajuan teknologi memungkinkan para peneliti merekayasa sel inang tempat di mana virus itu akan hidup.

Di dalam vaksin yang akan disuntikkan ke orang banyak sudah tidak ada lagi sel janin. Yang diambil hanya produknya saja: yaitu virusnya. Ya, vaksin itu memang mengandung virus. Tetapi, ia sudah tidak lagi berbahaya sesuai dengan persyaratan utama lolos uji klinis.

Nah, daripada kamu termakan informasi sesat seputar vaksin. Ada baiknya untuk mengenal dulu apa sebenarnya vaksin dan sejarahnya.

Apa itu Vaksin?

Vaksin dilakukan dengan menyuntikkan materi genetik virus yang sudah dilemahkan ke dalam tubuh

Singkatnya, vaksin adalah zat yang sengaja dibuat untuk merangsang pembentukan kekebalan tubuh dari penyakit tertentu, sehingga bisa mencegah terjangkit dari penyakit tertentu tersebut.

Vaksin dibuat dari penyebab penyakit itu sendiri. Misalnya, vaksin Covid-19 akan dibuat dari materi genetik virus SARS-CoV-2 yang sudah dilemahkan.

Tujuan vaksin adalah untuk memperkenalkan virus penyebab penyakit pada sistem imun di dalam tubuh. Sistem imun memiliki mekanisme untuk mengenali dan mengingat zat asing berbahaya yang masuk ke dalam tubuh. Itulah alasan mengapa orang yang sudah pernah terkena cacar akan menjadi kebal terhadap penyakit tersebut.

Nah, vaksin itu mengandung virus yang sudah mati atau dilemahkan, jadi ia tidak akan berbahaya sekaligus membuat sistem imun mengenali dan mengingat virus tersebut.

Jadi begitu virus tersebut masuk ke dalam tubuh orang yang sudah melakukan vaksinasi, sistem imun akan mengenali zat berbahaya itu dan langsung bereaksi untuk melawan virus tersebut sebelum berkembang biak dan menyakiti orang tersebut.

Vaksin juga tidak akan tinggal di dalam tubuh. Satu-satunya yang tinggal adalah pengetahuan dan memori sistem imun untuk mengenali dan cara untuk melawan zat berbahaya tertentu.

Sejarah dan Manfaat Vaksin

Istilah vaksin pertama kali dikenal pada tahun 1796, ketika vaksin cacar pertama berhasil ditemukan. Kala itu, cacar atau variola adalah penyakit yang sangat mematikan.

Vaksin tersebut dibuat oleh Edward Jenner, seorang dokter dari Berkeley, suatu daerah pedesaan di Inggris pada tahun 1796.

Hal itu berawal saat Jenner memperhatikan penduduk lokal yang mayoritas bekerja sebagai peternak. Mereka yang memerah susu sapi, sering kali terinfeksi oleh cacar sapi (cow pox) yang menyebabkan munculnya lesi pada tangan dan lengannya.

Kemudian ia melakukan penelitian dengan mengambil sampel darah orang yang terkena cacar sapi itu ke anak kecil. Dugaanya benar, anak itu langsung tertular cacar sapi.

Beberapa minggu setelahnya, Jenner meneliti dan mencoba menyuntikkan anak kecil itu dengan materi cacar air. Ternyata, anak itu sembuh dalam waktu dekat.

Setelah itu, terobosan baru tentang vaksin ini menyebar. Banyak dari peneliti yang berhasil menemukan vaksin. Sebut saja John Enders yang menemukan vaksin campak yang diperkirakan menyelamatkan 120 juta nyawa.

Penemuan antibiotik, antitoksin, vaksin dan kemajuan medis lainnya yang tak terhitung jumlahnya semakin memukul mundur serangan wabah penyakit.

Coba cari di Wikipedia tentang penyakit smallpox (variola atau cacar) yang membunuh lebih dari 300 juta nyawa manusia. Kalimat pertamanya adalah:

“Smallpox was an infectious disease caused by one of two virus variants, Variola major and Variola minor.

Ya. “smallpox was”. Itu adalah bentuk past tense dalam bahasa Inggris. Penyakit yang mendapatkan namanya dari pustula atau bintil menyakitkan yang menyelubungi  kulit, mulut dan mata korbannya sudah tidak ada lagi. Kasus terakhir didiagnosa di Somalia pada tahun 1977.

Apakah kamu pernah mendengar penyakit polio? Mungkin kamu jarang mendengarnya karena sudah jarang terjadi berkat adanya vaksin. Penyakit yang membuat kurang lebih 350 ribu orang cacat seumur hidup per tahun sebelum ditemukannya vaksin. Penemunya adalah Jonas Salk.

Dia adalah penemu vaksin polio yang menolak temuannya untuk dipatenkan. Padahal, kalau dipatenkan, kira-kira nilainya mencapai 7 miliar US dollar pada tahun 1955! Bisa langsung kaya mendadak dia.

Saat ia ditanya siapa yang memegang paten vaksin ini, Salk menjawab: “Semua orang. Tidak ada paten untuk barang yang bisa menyelematkan manusia. Sama seperti matahari, bisakah matahari dipatenkan?”

Menurut sejarah penemuan yang ditulis Richard Carter, pada hari vaksin polio ditemukan, tepatnya saat diumumkan pada 12 April 1955, orang-orang menikmati momen-momen keheningan, membunyikan lonceng, membunyikan klakson, menium peluit pabrik, melepaskan tembakan penghormatan, meliburkan sekolah dan kantor, minum-minum bersama, memeluk anak-anak, tersenyum pada orang asing dan memafkaan musuh.

Kota New York memberikan penghormatan pada Jonas Salk yang telah menemukan amunisi untuk mengalahkan polio.

Hari ini, di tengah ancaman pandemi Covid-19 yang telah menginfeksi lebih dari 78 juta manusia dan membunuh hampir dua juta di antaranya (sampai tulisan ini dibuat, masih banyak orang yang percaya dengan informasi-informasi sesat dan mitos tentang vaksin.

Padahal, sudah terbukti bahwa vaksin ini memiliki manfaat yang luar biasa baik. Yuval Harari, penulis buku best-seller, Sapiens mengatakan bahwa penemuan vaksin adalah penemuan terbaik umat manusia.

Referensi:

Enlightenmen Now, Steven Pinker

John Hopkins University & Medicine, Coronovirus Resource Center

Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional | Mitos Vaksin Salah, Faktanya Vaksin Aman

National Geographic, Here’s the Latest on Covid-19 Vaccines

New York Times, Coronavirus Vaccine Tracker

Sapiens, Yuval Noah Harari

ScienceMag, Abortion Opponents Protest COVID-19 Vaccines Use of Fetal Cells

World Health Organization, 10 Facts on Polio Eradication

YouGov, The difference between what Republicans and Democrats believe to be true about COVID-19

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Evidensi