Evidensi

Baca Sains Tanpa Sinis

Kecerdasan Buatan Mampu Mendeteksi PTSD via Suara

2 min read
suara dari seseorang yang didengarkan smartphone

Sejak dulu, PTSD atau Post Traumatic Stress Disorder (gangguan stress pasca trauma) merupakan salah satu penyakit mental yang paling sulit didiagnosa.

Metode tradisional seperti wawancara klinis menjadi kurang akurat karena melibatkan subjektivitas psikolog. Belum lagi kalau pasiennya menyembunyikan banyak hal.

Saat ini, para peneliti dari Universitas New York mengatakan bahwa mereka menemukan cara baru untuk mendiagnosa PTSD melalui suara yang dianalisis oleh kecerdasan buatan. Penelitian yang dilakukan bersama SRI International (lembaga penelitian yang membawa SIRI ke Iphone) ini telah terbit di jurnal Depression and Anxiety.

Disadur dari The New York Times, Institut penelitian Amerika, SRI Internasional dan New York University menghabiskan waktu lima tahun untuk mengembangkan program analisis suara yang mampu mendeteksi gejala PTSD dan emosi hanya dari suara.

Dari tanda-tanda kecil gelombang suara yang dihasilkan pembicara, peneliti yang mengembangkan program ini mengatakan bahwa algoritma buatannya mampu mendiagnosa PTSD dengan tingkat keakuratan mencapai 89%.

Peneliti merekam wawancara kepada 129 veteran perang yang rentan mengalami PTSD dan mengumpulkan 40.000 sampel suara untuk diteliti.

Mereka menggunakan sampel suara tersebut untuk mengajarkan kecerdasan buatan indikator gejala PTSD: irama yang lebih lambat, lebih monoton serta kisaran nada yang lebih pendek dengan pengucapan yang lebih sedikit.

tentara yang berseragam lengkap menutup wajahnya mengalami ptsd
Seorang tentara yang mengalami PTSD

Software analisis suara dapat mengubah cara kita mendiagnosa penyakit mental.

“Kecerdasan buatan mampu mendeteksi perubahan-perubahan kecil pada suara. Perubahan yang dihasilkan otot tenggorokan atau gerakan kecil lidah dan bibir. Semua ini indikator potensial untuk mendeteksi PTSD.”

Charles Marmar, Profesor Psikiatri New York University.

Meskipun kecerdasan buatan menghasilkan terobosan baru dalam mendeteksi PTSD, masih banyak celah kekurangan dari penelitian ini. Karena hanya menginput data dari veteran perang pria, pastinya akan menjadi bias jika diterapkan pada pasien perempuan.

Kekurangan ini menjadi masukan yang baik untuk pengembangan program semacam ini selanjutnya.

Dengan menggunakan banyak data yang lebih kaya, kedepannya program ini dapat menjadi teknologi yang lebih universal.  Diharapkan program analisis suara akan menjadi teknologi yang efektif dalam mendeteksi banyak penyakit mental dengan tingkat objektivitas dan keakuratan yang semakin tinggi.

Sehingga, para psikolog dan psikiatris dapat memberikan penanganan yang lebih baik bagi penderita penyakit mental.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Evidensi