Baca Sains Tanpa Sinis
Mungkinkah Kecerdasan Buatan Menggantikan Pekerjaan Cerdas Manusia?

Mungkinkah Kecerdasan Buatan Menggantikan Pekerjaan Cerdas Manusia?

Kecepatan perkembangan teknologi sedang dalam tahap yang paling cepat sepanjang sejarah. Sobat Kilat bisa membayangkan 10 tahun yang lalu, smartphone dengan fitur layar sentuh merupakan teknologi baru yang sangat canggih. Hanya segelintir saja orang yang punya smartphone dengan fitur itu. Kebanyakan kita pasti masih mengantongi Blackberry dengan keyboard fisik.

Saat ini, mungkin kita melihat smartphone dengan tombol fisik sebagai teknologi kuno. Perkembangan teknologi yang sedemikian cepat juga memiliki pengaruh bukan hanya pada tingkat fashion, melainkan juga pada pasar kerja. Ya, sebelumnya tim Dompet Kilat sudah membahas keterampilan apa saja yang dibutuhkan untuk dapat bertahan di pasar kerja masa depan.

Para pakar dan futuris memprediksi akan ada banyak sekali jenis pekerjaan yang akan hilang di masa depan. Digantikan oleh teknologi otomatis dan kecerdasan buatan yang dapat bekerja dengan lebih efisien dibandingkan manusia.

Berikut ini beberapa jenis pekerjaan yang diprediksi akan hilang:

1.  Telemarketer. Apakah kamu pernah ditelpon oleh seseorang dan menawarkan produk? Itulah tugas dari telemarketer. Teknologi baru memungkinkan lahirnya robot telemarketer. Perusahaan gak perlu lagi membayar banyak orang untuk menawarkan produknya lewat telpon. Cukup butuh satu telemarketer robot untuk berbicara dengan ratusan calon konsumen. Ya, seperti teknologi Siri dalam produk apple yang menawarkan produk perusahaan pada calon konsumen.

2.  Supir. Saat ini berbagai perusahaan mobil sedang mengembangkan teknologi mobil yang bisa berjalan dengan otomatis. Tesla menjadi pemimpin dalam industri ini. Perusahaan teknologi lainnya seperti Apple, Google dan Amazon juga tertarik untuk membuat mobil otomatis. Apa yang terjadi pada supir seandainya mobil otomatis sudah diproduksi secara massal? Nyaris bisa dipastikan pekerjaan supir akan menghilang digantikan dengan kecerdasan buatan.

3.  Akuntan. Pekerjaan ini gak akan sepenuhnya hilang. Namun, akan berkurang jauh dari jumlahnya saat ini. Perusahaan gak perlu lagi mempekerjakan banyak akuntan untuk mencatat kondisi keuangan perusahaan. Saat ini sudah banyak sekali aplikasi dan teknologi yang dapat menjalankan pekerjaan selayaknya akuntan. Di masa depan, mungkin sebuah perusahaan hanya perlu satu akuntan untuk melakukan audit pada pekerjaan yang dilakukan oleh robot akuntan dengan kecerdasan buatan.

4.  Cleaning Service. Pelayan yang bertugas untuk membersihkan ruangan juga diprediksi akan menghilang. Saat ini saja sudah banyak produk-produk yang dijual dengan kemampuan bisa membersihkan ruangan secara otomatis. Seperti robot vacuum cleaner.

5.  Resepsionis. Teknologi layar sentuh yang dilengkapi dengan informasi canggih dapat menggantikan resepsionis untuk melayani tamu. Sekarang saja di bank kita gak perlu lagi mengantri untuk mengambil nomor antrian. Cukup tekan pada layar sentuh yang tersedia di dekat pintu masuk dan mesin itu secara otomatis mengeluarkan struk tanda nomor antrian.

Itulah contoh-contoh pekerjaan yang diprediksi akan digantikan oleh teknologi otomatis, kecerdasan buatan atau robot. Nah, pekerjaan-pekerjaan tersebut memiliki ciri yang sama: pekerjaan monoton yang cara kerjanya repetisi. Pekerjaan dengan ciri semacam itu diprediksi akan mudah digantikan oleh robot di masa depan.

Sekarang kamu pasti sudah jarang sekali melihat penjaga pintu tol yang biasanya melayani setiap kendaraan yang ingin masuk tol. Cukup dengan menggunakan electronic cash dan menyentuhkannya ke sebuah alat, maka dengan otomatis pintu tol terbuka. Asalkan saldomu mencukupi.

Apakah Kecerdasan Buatan Akan Menggantikan Pekerjaan Manusia?

Saat revolusi industri di abad ke-18, banyak pekerjaan manusia yang hilang. Pabrik menggunakan mesin-mesin besar sehingga menggantikan banyak tenaga manusia. Sawah dan ladang juga memanfaatkan traktor untuk menggantikan peran manusia. Singkatnya, tenaga atau otot manusia digantikan dengan mesin.

Nah, karena banyak tenaga atau otot manusia digantikan dengan mesin. Manusia mulai menciptakan pekerjaan baru dan bergerak di bidang jasa yang sulit diperankan oleh mesin saat itu. Sejak revolusi industri di Inggris pada abad ke-18, banyak sekali pekerjaan di bidang jasa yang muncul.

Kekhawatiran bahwa teknologi terkini seperti kecerdasan buatan akan menggantikan pekerjaan manusia memang sering terdengar saat ini. Hari ini sudah banyak contoh pekerjaan yang hilang dan berhasil digantikan dengan teknologi.

Para futuris menganggap bahwa kecerdasan buatan sanggup mengerjakan pekerjaan manusia yang membutuhkan daya kognisi dengan tinggi. Kecerdasan manusia gak lagi superior.

Kalau revolusi industri menggantikan otot manusia, revolusi 4.0 ini mampu menggantikan otak manusia. Apalagi yang bisa dilakukan manusia seandainya robot sudah jauh lebih cerdas dari manusia?

Penelitian yang dilakukan World Economic Forum dan dipublikasi di Future of Jobs Report 2020 menemukan bahwa revolusi 4.0 ini sama seperti revolusi-revolusi pasar kerja sebelumnya. Memang akan banyak pekerjaan yang hilang, namun akan lahir juga pekerjaan baru untuk mengisi kekosongan tersebut.

Sobat Kilat bisa membayangkan, saat kita kecil dulu pernahkah bercita-cita menjadi seorang Youtuber? Nyaris pasti gak mungkin. Bahkan, kita dulu gak pernah membayangkan bahwa akan ada profesi yang dinamakan Youtuber. Coba tanya anak SD saat ini, pasti kamu akan menemukan ada dari mereka yang bercita-cita menjadi Youtuber. Ya, dunia bergerak dengan begitu cepatnya!

Ini merupakan contoh bahwa akan ada pekerjaan-pekerjaan baru yang akan lahir seiring dengan revolusi 4.0 ini. Nah, dalam penelitiannya, World Economic Forum menyatakan akan ada 85 juta pekerjaan yang punah akibat revolusi ini. Tetapi, akan ada 97 juta pekerjaan baru yang muncul dan akan dibutuhkan pada tahun 2025.

Menemukan Diri dan Belajar Hal Baru

Di era perkembangan teknologi yang berkembang dengan sangat cepat. Pekerja harus mampu menemukan diri dan mempelajari hal baru agar bisa tetap relevan di pasar kerja. Seandainya pekerjaan kita terancam oleh robot atau kecerdasan buatan, kita harus mampu meningkatkan keterampilan kita atau mempelajari hal baru agar bisa lebih unggul dan tetap relevan di pasar kerja.

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Price Waterhouse Cooper (PWC) dalam laporan berjudul “Will robots steal our jobs?”, beberapa tahun ke depan 3% dari pekerjaan berpotensi digantikan oleh kecerdasan buatan.

Sampai pertengahan 2030-an, kecerdasan buatan akan semakin canggih dan menggantikan 30% pekerjaan yang ada pada hari ini. 44% pekerja dengan tingkat pendidikan yang rendah diprediksi terancam tidak akan mendapat pekerjaan kalau tidak menemukan diri dan mempelajari hal baru.

Menurut World Economic Forum, dalam lima tahun ke depan, separuh dari pekerja harus melakukan peningkatan keterampilan dan mempelajari hal baru. Laju cepat perubahan teknologi membutuhkan model baru untuk pelatihan yang mempersiapkan pekerja untuk masa depan berbasis kecerdasan buatan.

Bagaimana Peran Pengusaha?

Peningkatan keterampilan membutuhkan pendekatan yang dipimpin oleh manusia yang fokus pada penerapan pengetahuan baru untuk mengembangkan pola pikir yang siap untuk bekerja sama dengan kecerdasan buatan. Pengusaha harus melihat peningkatan keterampilan dan menemukan diri pekerjanya sebagai investasi di masa depan organisasi mereka, bukan sebagai beban.

Tanpa melakukan peningkatan keterampilan secara berkala, sebuah perusahaan bisa jadi akan kalah saing di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat.

Setiap orang harus mampu mengembangkan dirinya dengan belajar hal-hal baru agar tetap relevan dengan dunia pekerjaan
Setiap orang harus mampu mengembangkan dirinya dengan belajar hal-hal baru agar tetap relevan dengan dunia pekerjaan

Perusahaan harus berinvestasi dalam mengembangkan soft skill pekerja mereka yang gak bisa ditiru oleh kecerdasan buatan. Di dunia yang terus berubah ini, nilai kreativitas, kepemimpinan, dan kecerdasan emosional kemungkinan besar semakin dibutuhkan dan memanfaatkan kualitas ini untuk menciptakan tata kelola yang kuat dan budaya organisasi untuk mengelola kecerdasan buatan sangatlah penting.

Meskipun beberapa memiliki pandangan distopia tentang masa depan, kenyataannya adalah bahwa dampak positif dari kecerdasan buatan kemungkinan akan lebih besar daripada konsekuensinya.

Hanya melalui investasi dalam pendidikan holistik berkualitas tinggi dan peluang peningkatan keterampilan yang dipasangkan dengan prakarsa multi-sektor, kita dapat mempersiapkan masyarakat dan diri kita sendiri untuk masa depan ini dan merangkul manfaat kecerdasan buatan.

Gak ada cara yang lebih baik saat ini dibandingkan terus belajar dan menemukan diri sendiri di tengah perubahan yang sangat cepat seperti sekarang ini. Gimana Sobat Kilat? Kamu takut atau antusias dalam menghadapi masa depan?

Penulis: Fadhel Yafie

Referensi:

Evidensi (2020) | Mengenal Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence)

McKinsey & Company (2019) | Automation and the future of work in Indonesia

PWC | Will robots really steal our jobs?

Time (2020) | Millions of Americans Have Lost Jobs in the Pandemic—And Robots and AI Are Replacing Them Faster Than Ever

World Economic Forum (2020) | Don’t fear AI. It will lead to long-term job growth

World Economic Forum (2020) | The Future of Jobs Report 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Evidensi