Baca Sains Tanpa Sinis
Kenapa Kita Melihat Hantu? Berikut 5 Penjelasan dari Sains

Kenapa Kita Melihat Hantu? Berikut 5 Penjelasan dari Sains

Apakah hantu itu nyata? Ini adalah pertanyaan banyak orang yang masih sering diperbincangkan. Jawabannya, bergantung pada siapa kamu bertanya.

Kalau bertanya pada masyarakat Indonesia, tentunya mayoritas jawabannya adalah: “Ya, hantu itu nyata”. Meskipun belum ada statistik dan data tentang kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap hantu, tapi kita bisa melihat dari tingginya antusiasme orang Indonesia terhadap kanal-kanal horor di Youtube maupun film.

Sampai tulisan ini dibuat, Nessie Judge yang punya subscriber nyaris 7 juta, Sara WIjayanto 6,7 juta subscriber, jurnalrisa 4,7 juta subscriber, Ewing HD dengan subscriber 3 juta dan masih banyak lagi Youtuber serupa yang membagikan kisah horor seputar hantu.

Belum lagi kalau membahas film layar lebar beraliran horor. Banyak sekali! Mulai dari pocong, jelangkung, kuntilanak, hingga tuyul. Coba sebutkan jenis hantu lokal populer yang belum pernah muncul di layar lebar Indonesia?

Saya masih ingat betul dulu pernah melihat poster film di sebuah mall besar yang berjudul “Kuntilanak Kesurupan”. Nah loh? Hantu kesurupan sama apa lagi? Apa jangan-jangan hantu juga punya kepercayaan soal hantu?

Dari fakta-fakta di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap hantu sangat tinggi. Lembaga riset dunia, The Harris Poll menemukan bahwa 42% orang Amerika Serikat percaya pada eksistensi hantu. Di Inggris, lebih banyak lagi, yaitu 52% orang yang percaya hantu itu nyata.

Meski demikian, sampai saat ini sains belum dapat membuktikan kalau ada kuntilanak yang bisa tertawa cekikikan, pocong yang keluar dari kuburannya walau diikat kain kafan atau tuyul yang keluyuran cuma modal kolor.

Lalu, kenapa banyak orang yang mengaku pernah mengalami kejadian menyeramkan melihat penampakan hantu? Sains punya lima alasan kenapa manusia melihat hantu.

1. Kamu Memang Ingin Percaya

Sekumpulan orang ketakutan pada bayangan hantu
Illustration by MC Wolfman

Pada dasarnya, kepercayaan manusia itu dibentuk dari keinginan mereka untuk percaya. Kamu pasti pernah punya pengalaman berdebat dengan orang. Meskipun sudah diberikan argumen dan data-data yang faktual, lawan debat mu tetap saja gak percaya.

Bukan, itu bukan salah dia. Tapi memang manusia cuma mau percaya pada apa yang dia ingin percaya.

Begitu juga dengan hantu. Orang yang melihat hantu adalah mereka yang percaya dengan keberadaan hantu. Hal ini menjelaskan kenapa penampakan hantu biasanya sesuai dengan kepercayaan lokal.

Misalnya, di Indonesia hantu yang paling sering dilihat orang itu pocong. Kalau di Cina, hantu yang lompat-lompat itu bukan pocong, tapi vampir. Lain lagi dengan budaya Barat, vampir a la Barat bukan hantu pucat yang lompat-lompat, melainkan orang berpakaian rapi yang gigi taringnya lebih mirip macan dari pada manusia.

“Mereka yang percaya cenderung lebih sering melaporkan sensasi yang tidak wajar, dan mereka juga cenderung menyimpulkan bahwa sensasi tersebut menunjukkan keberadaan hantu,” kata Chris French, kepala Unit Penelitian Psikologi Anomali di Goldsmiths, Universitas London.

Pada tahun 1990, peneliti dari University of Illinois melakukan penelitian di gedung bioskop tua yang sudah tutup nyaris 100 tahun. Mereka membagi partisipan menjadi dua kelompok yang akan diajak melihat bioskop tua itu.

Kelompok pertama, diberi tahu bahwa mereka akan membantu melakukan penyelidikan soal hantu. Kelomok kedua, gak dikasih instruksi apa-apa. Hanya sekedar tur di gedung tua.

Hasilnya, kelompok pertama lebih banyak melaporkan peristiwa menyeramkan dan penampakan hantu.

Chris French mengatakan fenomena yang disebut pareidolia ini, dapat menjelaskan banyak rekaman suara hantu. Jika seorang pemburu hantu atau paranormal menginstruksikan kita untuk mendengarkan suara tertentu, maka otak kita (yang suka mengidentifikasi pola) berusaha sekuat tenaga untuk menciptakan kata-kata yang tepat dari berbagai potongan suara acak.

2. Kamu Memilih Untuk Gak Ambil Risiko

Seorang perempuan memegang senter karena ketakutan
Illustration by MC Wolfman

Sangat mudah untuk mengabaikan gagasan tentang aktivitas paranormal di siang hari bolong, tetapi semuanya berubah saat kamu menuju ke ruang bawah tanah yang gelap. Lingkungan asing dan mengancam meningkatkan insting bertahan hidup kita.

Manusia masih membawa ketakutan primitif dari nenek moyang kita yang masih hidup berburu-mengumpul. Zaman nenek moyang kita, masuk akal kalau manusia takut berjalan sendirian di tengah malam yang gelap. Banyak predator yang bisa memangsa manusia.

“Jika kamu berjalan di hutan dan melihat gerakan, kamu bisa berpikir tentang dua kemungkinan. Apakah itu hanya gerak pepohonan yang tertiup angin atau ada predator yang sedang menguntit.” kata Michiel van Elk, profesor psikologi sosial di Universitas Leiden.

Nah, nenek moyang kita harus terus-menerus waspada dari bahaya tersembunyi seperti macan tutul, ular atau predator lainnya. Orang-orang dengan sikap “mending cari aman aja daripada ntar nyesel” lebih mungkin untuk bertahan hidup dan bereproduksi.

Naluri ini lah yang membuat kita merasakan kehadiran makhluk lain meski kita sendirian. Meskipun kita hidup di tempat yang relatif aman dari binatang buas, naluri primitif dari nenek moyang kita masih tertanam di dalam otak kita.

Respons fight or flight menjadi lebih sensitif kalau kita berada di tempat asing. Gerakan atau suara sedikit saja bisa membuat kita merinding dan lari terbirit-birit. “Mending kabur daripada kenapa-kenapa,” kurang lebih begitu refleks kebanyakan kita.

3. Kamu Sedang Berduka

Orang kesepian yang melihat pintu sedang dibuka
Illustration by MC Wolfman

Penelitian menunjukkan bahwa otak dapat memanggil roh sebagai alat untuk mengatasi trauma, terutama rasa sakit karena kehilangan orang yang dicintai. Sama seperti kebanyakan orang yang diamputasi melaporkan apa yang dikenal sebagai “anggota tubuh bayangan”. Yaitu perasaan bahwa bagian tubuh yang dipotong masih ada.

Nah, pasangan yang ditinggal mati, sering melaporkan melihat atau merasakan pasangan mereka yang telah meninggal. Definisi kasih tak sampai yang sebenarnya.

Sebuah penelitian tahun 1971 di British Medical Journal yang berjudul “Halusinasi Masa Janda”, menemukan bahwa hampir separuh janda di Wales dan Inggris pernah melihat pasangan mereka yang telah meninggal.

Para ahli berpikir bahwa hantu seperti itu membantu kita menghadapi peristiwa yang menyakitkan atau membingungkan. Makalah tersebut menyimpulkan bahwa beberapa kejadian memberikan “kelegaan seketika dari gejala kesedihan yang menyakitkan”, sementara yang lain memperkuat pandangan agama yang sudah ada sebelumnya.

Kematian juga bukan satu-satunya pemicu pertemuan dengan hantu. Studi menunjukkan bahwa anak-anak yang diintimidasi atau dihadapkan pada situasi berbahaya lebih cenderung memiliki fantasi paranormal, tren yang juga ditemukan psikolog pada orang dewasa dengan riwayat trauma masa kanak-kanak.

Ada juga bukti bahwa penampakan memiliki manfaat mental lainnya. Dalam survei tahun 1995 di The Journal of the American Society for Psychical Research, 91 persen peserta mengatakan pertemuan mereka memiliki setidaknya satu sisi positif, seperti rasa keterkaitan dengan orang lain.

4. Ada Masalah dalam Otak mu

Seorang pria yang sedang memegangi kepalanya sambil memegang gelas kopi
Illustration by MC Wolfman

Kemunculan hantu bisa jadi akibat dari masalah yang lebih besar di materi abu-abu otak kita. Bagi sebagian orang, mendengar suara atau mengalami penglihatan bisa menjadi indikator awal kondisi medis seperti skizofrenia.

Bahkan pada mereka yang gak punya penyakit mental, perubahan sementara dalam aktivitas otak dapat menyebabkan masalah dengan hantu. Orang yang mengkonsumsi obat psikoaktif seperti LSD dan jamur ajaib sering kali melaporkan fantasi spiritual.

Selain itu, psikiater mencatat banyak orang melihat penampakan sebagai akibat dari kelumpuhan tidur. Suatu kondisi yang yang membaut penderitanya merasa ketindihan dan sulit bergerak meskipun sudah terbangun. Bahasa populernya: rep-repan.

Para ilmuwan belum menemukan dengan tepat akar dari fenomena ini, tetapi beberapa orang berpikir itu terjadi ketika otak sudah menginstruksikan tubuh untuk istirahat tetapi gak berhasil mematikan kesadaran. Alhasil, tubuh sudah lumpuh gak bergerak tapi masih sadar.

Perpaduan ini hampir selalu disertai dengan sensasi terperangkap, mengambang, atau terlepas dari tubuh seseorang — dan dalam banyak kasus, orang yang tidur melihat iblis atau perempuan yang menyertainya.

Menurut survei 2018 di International Journal of Applied and Basic Medical Research, setidaknya 8 persen dari populasi umum dan sekitar 30 persen orang dengan penyakit kejiwaan telah melaporkan mengalami salah satu episode malam hari ini di beberapa titik dalam hidup mereka.

5. Kamu Berada di Tempat yang Salah

jamur tumbuh di tumpukan buku
Illustration by MC Wolfman

Situasi yang asing dapat dengan mudah memanipulasi indra kita untuk melihat apa yang gak ada. Tempat yang angker sering kali memiliki situasi dengan pencahayaan yang gelap dan lembab.

Kembali lagi ke penjelasan evolusioner, nenek moyang kita dulu membenci tempat yang gelap dan lembab. Sebab, tempat seperti itu memiliki potensi bahaya yang besar. Ular menyukai tempat yang gelap dan lembab untuk bersarang, begitu juga dengan binatang berbahaya lainnya.

Tempat yang lembab juga biasanya ditumbuhi jamur dan tanaman beracun lainnya. Nah, tanaman beracun ini biasanya memunculkan aroma yang kurang sedap sehingga membuat manusia merasa gak nyaman untuk berlama-lama di tempat tersebut.

Ada beberapa bukti bahwa tumbuhan mikroskopis seperti jamur dapat memicu kecemasan, depresi, atau bahkan psikosis.

Perpaduan antara ketakutan primitif dan situasi asing membuat otak kita bekerja untuk menjauhkan diri dari tempat tersebut. Hal ini tentunya membuat peluang bertahan hidup menjadi lebih tinggi. Sehingga, pada kondisi yang ekstrem, otak kita berfantasi untuk menciptakan visual-visual yang mengerikan seperti penampakan hantu.

Pernah kan kita dengar ungkapan bahwa kalau kita semakin takut, maka kemungkinan untuk kedatangan hantu akan lebih besar? Bisa jadi itu karena secara gak langsung otak kita mengatasi kondisi itu dengan menciptakan visual aneh agar kita bisa cepat-cepat lari dari tempat itu.

Pembahasan soal penampakan hantu memang selalu menarik untuk diperbincangkan. Meskipun sains gak mengakui keberadaan dunia lain serta makhluk-makhluk halus di dalamnya. Tetapi, hantu sudah menjadi objek yang sehari-hari ada di sekitar kita.

Lalu, apakah kamu percaya bahwa hantu benar-benar nyata?

Atau kamu lebih percaya pada sains yang mengatakan bahwa hantu adalah hanya hasil dari mekanisme psikologis kita terhadap kondisi-kondisi tertentu?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Evidensi