Baca Sains Tanpa Sinis
Kesepian Dapat Berakibat Fatal Untuk Kesehatan!

Kesepian Dapat Berakibat Fatal Untuk Kesehatan!

Manusia adalah makhluk sosial. Hubungan kita dengan orang lain meningkatkan peluang kita untuk bertahan hidup dan berkembang, terutama saat manusia masih hidup dalam kelompok-kelompok kecil di alam liar.

Perlu diingat, bahwa kita saat ini merupakan keturunan dari leluhur yang hidup nomaden berpindah tempat di tengah ganasnya alam liar, sehingga kesepian dan kesendirian menjadi hal yang sangat berbahaya.

Nyaris mustahil bertahan hidup tanpa bekerja sama dengan orang lain. Bagaimana mungkin seorang manusia bisa bertahan hidup dengan gaya berburu – mengumpul tanpa bantuan orang lain?

Para psikolog evolusioner membuktikan bahwa manusia saat ini masih memiliki fisik dan psikis yang sama dengan nenek moyang pemburu – pengumpul. Sehingga, kecenderungan psikologisnya pun masih sama persis.

Di era modern, ketika kondisi lingkungan gak se-keras dulu, manusia mungkin-mungkin saja untuk hidup sendirian. Meskipun begitu, tetap saja peluang bertahan hidup akan lebih besar kalau kita punya hubungan pertemanan dengan orang lain.

Punya “orang dalam” contohnya, hal itu bisa meningkatkan peluang lebih untuk mendapatkan pekerjaan. Toh, kita gak asing kan dengan recruitment jalur ini?

Namun, seiring bertambahnya usia, banyak dari kita yang mulai merasa bahwa lingkaran pertemanan mulai mengecil dibandingkan ketika kita lebih muda. Hal ini membuat kita lebih rentan mengalami kesendirian dan kesepian.

Sebuah studi yang terbit di National Center for Biotechnologi Information (NCBI) membuktikan bahwa kesepian dapat berakibat buruk terhadap kesehatan seperti penurunan kognitif, kecemasan, depresi,  melemahkan sistem imun, penyakit jantung, alzheimer bahkan kematian.

Kesendirian dan kesepian bukanlah hal yang sama. Sekitar 28 persen orang dewasa yang lebih tua di Amerika, atau 13,8 juta orang hidup sendirian. Tetapi, banyak dari mereka gak merasa kesepian. Di satu sisi, ada orang yang merasa kesepian meski dikelilingi oleh keluarga dan teman.

Menurut Dr. Cacciopo, Ph.D, kesendirian adalah kondisi objektif di mana seseorang mengalami keterpisahan secara fisik dengan orang lain. Sedangkan, kesepian adalah kondisi subjektif di mana seseorang merasa keterpisahan secara emosional dengan orang lain.

Apa yang Terjadi pada Tubuh?

Kehilangan rasa terhubung dengan orang lain dan kelompok dapat mengubah persepsi seseorang tentang dunia. Seseorang yang mengalami kesepian kronis akan merasa terancam dan gak percaya pada orang lain.

Dr. Steven Cole, Ph.D, direktur Laboratorium Inti Genomik Sosial di Universitas California, Los Angeles menemukan perasaan kesepian dapat melemahkan sel-sel dalam sistem imun yang diperlukan untuk membantu tubuh kita sembuh dari cedera. Kalau kesepian berlangsung lama, hal ini akan meningkat risiko penyakit kronis.

“Secara biologis, kesepian dapat mempercepat penumpukan plak di arteri, membantu sel kanker tumbuh dan menyebar dan meningkatkan peradangan di otak yang menyebabkan penyakit Alzheimer. Kesepian meningkatkan risiko kerusakan pada tubuh.”

Pertanyaan pentingnya adalah: kenapa kondisi subjektif seperti perasaan dapat berpengaruh signifikan terhadap perubahan fisik? Sampai-sampai bisa memicu penyakit kronis.

Begini, kita tahu betul bahwa kesepian akan menurunkan peluang bertahan hidup. Sistem imun di dalam diri jadi malas untuk bekerja serius.

“Toh peluang untuk tetap hidup tipis, jadi untuk apa bekerja keras?” kurang lebih begitu kata sistem imun. Lemahnya sistem imun ini jadi pintu gerbang masuknya berbagai penyakit kronis.

Studi terbaru di Nature Neurosains menemukan bahwa otak orang yang kesepian memiliki respon yang sama dengan otak orang yang kelaparan.

Kesimpulan tersebut diperoleh melalui eksperimen yang dilakukan dengan 40 orang partisipan. Pertama-tama, para partisipan disuruh berpuasa selama 10 jam. Di penghujung hari, mereka diberikan gambar-gambar makanan pizza dan kue coklat.

Hasilnya, sel-sel saraf tertentu di otak tengah memproduksi dopamin, hormon kimiawi yang berkaitan erat dengan kesenangan dan penghargaan.

Pada hari yang berbeda, orang yang sama menjalani isolasi selama 10 jam (tanpa teman, tanpa Facebook, dan tanpa Instagram). Di penghujung hari, mereka ditunjukkan gambar orang yang mengobrol dan orang yang bermain bersama-sama.

Hasilnya, sel-sel saraf tertentu di otak tengah menunjukkan reaksi yang sama dengan orang kelaparan.

Semakin lapar atau semakin kesepian, partisipan menunjukkan reaksi hormon di otak tengah tersebut semakin kuat.

Yang menarik, mereka yang sebelum penelitian ini sudah merasa kesepian gak terlalu menunjukkan reaksi hormon yang berarti. “Mungkin ini dikarenakan eksperimen yang dikondisikan ini gak jauh berbeda dengan kehidupan sehari-hari mereka,” kata peneliti dalam studi tersebut.

Penemuan ini “menjelaskan keadaan kita saat ini,” lanjutnya. Covid-19 telah membuat lebih banyak orang terisolasi secara sosial dan merasa kesepian. Hal ini membahayakan kesehatan mental dan fisik kita. Penting untuk melihat dimensi sosial dari jenis krisis ini.

Cara Menghindari Kesepian

Dr. Steven Cole, Ph.d mengatakan bahwa ada cara untuk menghindari kesepian. Dalam studinya, ia dan koleganya menemukan bahwa memiliki tujuan dan makna hidup dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Ada banyak cara untuk mencari tujuan dan makna hidup. Tetapi, mencari kekayaan dan kenikmatan hidup saja gak cukup. Cara termudah adalah dengan melakukan kegiatan yang dapat berdampak untuk orang lain. Salah satunya adalah menjadi sukarelawan dalam kegiatan-kegiatan sosial.

Selain itu, menjadi sukarelawan dalam kegiatan sosial, berbuat baik pada orang lain, berdonasi, optimisme terbukti membuat orang punya peluang untuk hidup lebih bahagia dan panjang umur.

Kabar buruknya, ternyata sosial media yang punya tujuan awal untuk menghubungkan kita dengan orang banyak dengan mudah ternyata malah meningkatkan perasaan kesepian. Kalau digunakan secara berlebihan.

Ini mungkin karena sosial media membuat banyak orang berharap pada pujian dan apresiasi seperti fitur likes. Alhasil, banyak dari kita yang mengejar hal-hal tersebut dan secara gak langsung memaksa kita untuk mem-posting apa yang kira-kira disukai orang lain.

Nah, karena orang-orang cenderung mem-posting sesuatu yang disukai orang lain, jadilah mereka terlihat sangat bahagia di sosial media. Tanpa disadari, kita membandingkan kondisi orang yang “terlihat” sangat bahagia dengan kondisi kita. Padahal, belum tentu yang di-posting ­itu menggambarkan kondisi asli orang tersebut.

Perbandingan ini akhirnya membuat kita merasa rendah diri. Melihat banyak orang yang “terlihat” bahagia dan “terlihat” dalam kondisi baik sering kali membuat diri menjadi kurang percaya diri. Merasa gagal kalau dibandingkan dengan orang lain. Hasilnya kita malah mengasingkan diri dan menjadi kesepian.

Jadi, langkah efektif menurut sains untuk mengatasi kesepian yang pertama adalah mencari tujuan dan makna hidup. Kemudian, mengikuti kegiatan sukarelawan dan mencari teman yang memiliki tujuan sama. Yang terakhir, kurangi melihat sosial media dan membandingkan diri dengan orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Evidensi