Evidensi

Baca Sains Tanpa Sinis

Membaca Buku Bagus untuk Otak. Ini Tips Mudah Menumbuhkan Minat Baca

5 min read
membaca buku sangat baik untuk perkembangan otak

Kita semua tahu kalau membaca buku adalah kebiasaan yang sangat baik. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa selain menambah wawasan, membaca buku juga dapat meningkatkan emotional intelligence (EQ). Dulu, banyak orang mengklaim bahwa IQ yang tinggi adalah kunci keberhasilan.

Namun, hari ini banyak juga penelitian yang mengatakan bahwa EQ punya peran yang lebih besar daripada IQ dalam kesuksesan. Tetapi tidak perlu berdebat panjang soal ini. Membaca buku jelas meningkatkan keduanya. Menambah wawasan yang berhubungan dengan IQ dan mengasah empati yang berhubungan dengan EQ.

Berdasarkan data dari UNESCO, indeks minat baca warga Indonesia adalah 0,001. Artinya dari seribu orang, hanya satu orang yang punya minat baca bagus.

Riset berbeda yang berjudul World’s Most Literate Nation Ranked yang dilakukan oleh Connecticut State University pada Maret 2016 lalu menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Hanya satu peringkat di atas negara miskin, Botswana.

Pentingnya membaca buku di tengah gempuran informasi yang sangat deras
Buku yang diperjual-belikan saat bazaar buku. (JP/Ricky Yudhistira)

Dilihat dari kemampuan membaca orang Indonesia yang jeblok ditambah dengan penetrasi teknologi seperti internet dan smartphone yang membludak, jangan harap perbincangan di ruang publik khususnya di media sosial bisa bermutu.

Jarang membaca = IQ jeblok = EQ jeblok. Artinya, sudah goblok gak punya empati pula. Apa yang bisa diharap dari perbincangan publik di Indonesia?

Kenapa Harus Membaca Buku

Oke, saya berhenti untuk mengutuk Indonesia dan warganya karena malas membaca. Toh itu sama sekali bukan solusi yang baik. Buat kamu yang menemukan tulisan ini (artinya suka membaca yang sedikit berbobot), mari kita lanjutkan pembahasan ini.

Sains telah membuktikan bahwa membaca sangat penting untuk kesehatan otak. Bukan rahasia umum kalau membaca itu sangat baik untuk tumbuh kembang anak.

Penelitian tentang anak kembar di University of California at Berkeley menemukan anak yang membaca lebih awal menjadi lebih baik dalam tes kecerdasan, termasuk analisis menyelesaikan masalah dan kemampuan berbahasanya.

Studi lainnya mengindikasikan bahwa membaca dapat membantu perkembangan otak orang dewasa. Dalam penelitian tersebut, partisipan disuruh membaca ketika otaknya dipindai dengan MRI. Hasilnya, beberapa bagian otak bekerja dengan optimal saat orang sedang membaca.

Kemampuan otak seseorang akan menurun seiring dengan usianya. Semakin jarang digunakan, penyusutan kemampuan akan semakin terasa. Nah, penelitian yang terbit di jurnal Neurologi membuktikan bahwa membaca buku dapat memperlambat proses penurunan kemampuan kognisi ini.

Banyak banget deh penelitian yang mengatakan bahwa membaca punya efek yang sangat positif terhadap perkembangan otak. Selain meningkatkan kecerdasan, studi tahun 2016 membuktikan bahwa membaca buku fiksi dapat meningkatkan kecerdasan emosi seseorang.

Cukup deh membahas penelitian yang bisa mendukung klaim bahwa membaca buku itu sangat baik. Sebaliknya, kalau ada yang menemukan penelitian yang bertolak belakang dengan apa yang barusan ditulis, silahkan tulis di kolom komentar atau email ke redaksi kami. Kalau betul-betul legit, saya berani menghapus website ini.

Membangun Kebiasaan Membaca Buku

Membaca buku memang terasa membosankan di tengah distraksi smartphone yang menawarkan sesuatu yang jauh lebih menarik di waktu luang. Bermain game, bergunjing di media sosial atau menyaksikan video trending di Youtube jelas lebih menyenangkan dibandingkan membaca buku yang membosankan.

Kesibukan yang menguras otak baik itu saat sekolah, kuliah atau bahkan bekerja membuat kita memanfaatkan waktu luang sebaik-baiknya untuk beristirahat. Hidup sudah repot kok di waktu luang malah membaca buku yang bikin otak makin ngebul.

Eits, coba pertimbangkan manfaat-manfaat dari membaca buku. Terkesan klise memang. Tetapi, menumbuhkan kebiasaan baru memang bukan hal yang mudah. Apa lagi kebiasaan yang agak sulit seperti membaca.

Mungkin lebih mudah untuk menumbuhkan kebiasaan berolahraga (meskipun sulit juga). Karena, terkadang kebiasaan olahraga bisa dipamerkan dengan instan di media sosial. Kebiasaan membaca? Apa yang mau dipamerkan? Mau pamer pengetahuan kadang juga sulit karena harus berpikir berulang-ulang untuk menuliskan kata-kata.

Oke, kalau kamu benar-benar berminat untuk menumbuhkan minat baca, satu langkah pertama sudah kamu jalani. Apa itu? Niat yang kuat.

Setelah itu kamu harus membuat tujuan-tujuan kecil dalam membaca buku. Nggak perlu muluk-muluk harus menyelesaikan satu buku dalam satu minggu. Mulailah dari tujuan kecil seperti membaca 5 halaman per hari. Ketika sudah terbiasa, dinaikkan pelan-pelan menjadi 10 halaman, 15 halaman, 20 halaman dan seterusnya.

Oh iya, nggak perlu juga langsung baca buku yang berat-berat seperti Das Kapital-nya Karl Marx atau Homo Deus-nya Yuval Harari. Mulailah dari pembahasan yang sekiranya kamu sukai. Misal kamu suka buku cinta-cintaan, ya mulai saja dari situ.

Membaca buku Homo Deus karangan Yuval Harari
Yuval Harari dan bukunya Homo Deus yang dianggap cukup rumit dalam menjelaskan masa depan manusia

Membaca buku yang topiknya kamu sukai membuat kamu merasa senang dalam membacanya. Langsung melompat ke buku-buku berat akan membuat kamu mengantuk dan malas untuk terus membaca. Ingat, buku fiksi bisa meningkatkan kecerdasan emosi.

Setelah kebiasaan membaca tumbuh, jangan langsung sok pintar merasa paling tahu. Biasanya ini terjadi pada seseorang yang baru membaca buku. Ini namanya dunning-krueger effect. Kamu harus men-challenge pemahaman kamu yang baru saja didapat dari membaca buku.

Apakah Harus Buku Fisik?

Pertanyaan ini kerap kali menjadi perdebatan di kalangan pecinta buku. Memang ada sebagian orang yang masih memilih untuk membaca dari buku fisik. Nggak perlu ikut-ikutan dalam debat kusir yang nggak jelas ini. Semua itu tergantung dari selera pribadi.

Mengenai perdebatan antara buku fisik dan digital, beberapa penelitian tidak menemukan perbedaan yang signifikan antara buku fisik dan digital. Keduanya punya manfaat yang sama bagi perkembangan otak.

Ada sebuah penelitian yang dilakukan di kelas untuk mencari tahu perbedaan antara anak yang membaca dan belajar dengan kertas fisik dan dengan iPad. Hasilnya, nggak ada perbedaan yang signifikan dari kedua metode belajar yang berbeda tadi.

Terlepas dari apapun medianya, membaca buku tetap memberikan manfaat yang luar biasa untuk otak
Apapun medianya, membaca buku tetap memberikan manfaat

Yang sedikit berbeda adalah buku audio. Penyebabnya adalah membaca secara visual dan mendengar membutuhkan bagian otak yang berbeda untuk menterjemahkan informasi. Penelitian membuktikan bahwa membaca buku lebih baik untuk perkembangan otak dibandingkan mendengarkan buku audio.

Kenapa bisa begitu? Sebab, ketika membaca, kita mengimajinasikan suara, tempo dan nada dari teks yang kita baca. Hal ini membutuhkan lebih banyak area otak yang bekerja sehingga lebih bagus untuk kesehatan otak.

Tetapi jangan khawatir sebab buku audio juga masih mempengaruhi pikiran dan emosi secara positif. Singkatnya, IQ dan EQ masih terpengaruh positif oleh buku audio. Selain itu, kelebihan buku audio adalah bisa didengarkan sambil beraktivitas. Saat berangkat kerja, mengendarai kendaraan, saat mandi dan lain sebagainya.

Kenapa Kita Malas Membaca?

Satu-satunya alasan kita malas membaca adalah karena memang membaca itu sulit dan membosankan. Jauh lebih menyenangkan bermalas-malasan di atas kasur sambil bermain game atau menyaksikan video di Youtube. NO DEBATE.

Membaca itu berarti mengolah teks atau cerita menjadi informasi dalam otak. Sebetulnya, semua manusia sangat menyukai (bahkan terobsesi) dengan informasi. Pikirkan saja berapa banyak media gosip yang laku keras. Belum lagi arus informasi yang menyebar dengan sangat deras di grup-grup WhatsApp dan media sosial.

Hanya saja, semakin berbobot informasi itu, semakin dibutuhkan daya berpikir untuk mengolah cerita itu menjadi informasi. Seandainya informasi berbobot seperti sains bisa didownload selayaknya kita men-download file di internet, bisa dipastikan semua orang akan menjadi pintar dan berwawasan luas.

Jadi, tugas terberat untuk para duta literasi adalah membuat teks atau cerita yang berbobot dengan cara yang mudah dimengerti dan dapat diolah menjadi informasi dengan mudah oleh semua orang.

Inilah kerja yang ingin dikerjakan oleh evidensi. Menyebarkan informasi seputar sains yang mudah dimengerti orang banyak. Meskipun tidak mudah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Evidensi