Evidensi

Baca Sains Tanpa Sinis

Tanpa Agama, Cina Terdepan dalam Menghidupkan Orang Mati

5 min read
Membangktikan orang mati? Apa mungkin manusia berhasil mengakali takdir Tuhan?
Ilustrasi membangkitkan orang mati di peti krionik

Sejak dulu kala, manusia selalu berusaha, bahkan cenderung terobsesi, untuk mengakali kematian dan menghidupkan orang mati. Karena alasan itulah ilmu kesehatan, kedokteran, pengobatan lahir. Dari yang klenik sampai yang paling canggih.

Eksperimen demi eksperimen dilakukan. Riset demi riset dilakukan. Dari mbah dukun yang mengunyah tanaman liar untuk menemukan obat hingga tikus-tikus yang dijadikan kelinci percobaan di laboratorium.

Semua itu dilakukan umat manusia guna mengakali kematian!

Dan, saat ini manusia boleh dibilang berhasil mengakali kematian. Beberapa penyakit mematikan seperti polio, cacar, malaria, demam berdarah, dan lain sebagainya pelan-pelan mulai dijinakkan.

Berterima kasih lah pada kemajuan teknologi dan sains! Berkat kemajuan itu manusia telah hampir melipatgandakan angka harapan hidup dari 40 ke 70 tahun selama 100 tahun terakhir.

angka harapan hidup 500 tahun terakhir
Angka harapan hidup melonjak signifikan 100 tahun terakhir

Manusia selalu mati karena kesalahan teknis dalam tubuhnya. Jantung berhenti mempompa darah, arteri utama tersumbat oleh timbunan lemak, sel-sel kanker menyebar ke organ vital, virus menyerang paru-paru dan lain sebagainya.

Bagi sains modern, kematian adalah masalah teknis yang dialami tubuh. Dan, semua masalah teknis pasti ada solusi teknisnya! Berangkat dari prinsip ini lah, para ilmuwan secara ambisius ingin menghilangkan seluruh penyakit manusia.

Mohon maaf, jangan senang dulu. Bahkan masih ada proyek yang lebih ambisius lagi: menghidupkan orang yang sudah mati.

Dari sudut pandang kita, kesalahan teknis dalam tubuh dikenal sebagai penyakit. Misal, virus korona yang masuk ke dalam tubuh dan menghuni paru-paru.

Keberadaan virus yang semakin lama semakin banyak di paru-paru membuat pemiliknya menjadi kesulitan bernapas dan bisa berujung kematian.

Kalau menurut virus korona sih, dia hanya numpang hidup dan berkembang biak. Ya, mirip seperti manusia yang memberangus hutan dengan alasan membuka lahan untuk mencukupi kebutuhan manusia.

Sampai hari ini, sudah banyak sekali kesalahan teknis (penyakit) yang ditemukan solusi teknisnya (obatnya). Meskipun begitu, masih lebih banyak lagi penyakit yang belum ditemukan solusi teknisnya.

tren penurunan penyakit polio
Polio, salah satu penyakit yang berhasil dijinakkan manusia

Nah, oleh sebab itu banyak orang-orang yang ingin mengadopsi teknik krionik sampai ditemukan solusi teknis dari penyakitnya dan bisa dihidupkan kembali.

Eh, gimana maksudnya? Dihidupkan kembali? Apa lagi itu krionik?

Iya betul. Dihidupkan kembali dengan teknik krionik. Begini cara mainnya: pas orang tersebut dinyatakan mati, dia langsung dimasukkan ke peti mati super dingin dengan nitrogen cair di bawah minus 130 derajat celsius.

Gunanya apa dibekukan begitu? Biar organ-organnya gak rusak dan masih bisa berfungsi.

Nanti kalau emang di kemudian hari obat dari penyakitnya ditemukan, dia bisa dibangkitkan lagi dan penyakit yang bikin dia mati diobati.

teknologi yang dapat membangkitkan orang mati
Ilustrasi teknologi krionik yang membekukan tubuh manusia sebelum mati

Dan, yes! Manusia akan bangkit dari kematian! Mengerikan bukan?

Saat ini, ada 350 jenazah yang sudah dibekukan dan menunggu dibangkitkan kembali kalau obat dari penyakit yang dideritanya sudah ketemu.

Ribuan orang bahkan sudah sepakat untuk membayar demi bisa hidup kembali dengan teknik krionik ini. Saat ini ada empat laboratorium krionik: dua di Amerika Seriat, satu di Rusia dan terakhir di Cina.

Tantangan Menghidupkan Orang Mati

Jangan senang dulu dan yakin bisa hidup dua kali. Teknik krionik masih terganjal persoalan etika. Menghidupkan orang mati masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan.

Kayaknya kok gak etis banget menolak kematian dan menghidupkan orang mati. Bukannya ajal itu urusan Tuhan?

“Gak mungkin malaikat Izrail ngaret mencabut nyawa karena nyebat dulu saat diberi tugas. Gak akan maju se-detik pun apalagi mundur,” kata sebagian orang dengan bahasanya masing-masing.

Sepanjang sejarah, agama-agama secara tegas menyakralkan sesuatu di luar eksistensi duniawi. Islam, Kristen, Hindu dan banyak agama lain menegaskan bahwa makna eksistensi kita bergantung pada nasib kita di akhirat yang kekal.

Kematian adalah jembatan untuk menemukan makna kehidupan sesungguhnya. Mengakali kematian tentu dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terbesar pada Tuhan.

Prosedur krionik di Amerika Serikat masih terganjal persoalan regulasi, etika dan agama. Begitu juga di Rusia. Ini berbeda dengan negara komunis yang kafir dan ateis yang gak lain dan gak bukan adalah: Cina.

“Alcor dan Cryonics Institute di Amerika Serikat tidak bermitra dengan fasilitas medis apa pun. Mereka harus mengikuti hukum di bawah industri pemakaman. Setelah tubuh dimasukkan ke dalam nitrogen cair, selesai. Itu hanya fasilitas penyimpanan. Ini seperti orang-orang memiliki kuburan yang beku”.

Aaron Drake
Sekumpulan ilmuwan yang membangkitkan orang mati
Aaron Drake bersama sejawatnya yang meneliti teknik krionik

Aaron Drake adalah mantan direktur medis di Alcor, Amerika Serikat yang bergabung menjadi direktur medis di Yinfeng Cina tahun 2016. Ia menyatakan bahwa kepercayaan masyarakat Cina jauh lebih mudah menerima konsep krionik ini dibandingkan dengan kepercayaan Barat.

“Sedangkan, Pemerintah Cina tidak ingin kami hanya melakukan proyek pembekuan tubuh. Pemerintah Cina ingin proyek ini dapat bermanfaat bagi semua bidang kesehatan. Kami bekerja sama dengan ahli bedah, ahli anastesi, ahli syaraf dan lain sebagainya. Ini adalah proyek penelitian yang besar dan hal ini yang membuat saya bergabung dengan mereka,” lanjutnya.

Kebudayaan Barat dipersulit oleh pemikiran bahwa rencana Tuhan sama sekali gak boleh diganggu gugat. Pasti Tuhan punya maksud di balik kematian kita. Ya, kurang lebih ini adalah persepsi umum dari penganut agama Abrahamik.

Selain itu, orang Barat juga ragu apakah agama memperbolehkan mereka untuk dibekukan setelah mati. Cara pemakaman juga diatur dengan ketat dalam agama.

Kesulitan etis dan perbenturan kebudayaan membuat teknik krionik gak mengalami kemajuan pesat di negara-negara Barat. Jadi, meskipun Yinfeng memulai penelitian cryonics 50 tahun lebih lambat dari rekan-rekan Baratnya, potensi teknologi krionik di Cina jauh lebih besar tanpa hambatan agama.

Tapi sepertinya orang Indonesia gak perlu repot-repot mencari informasi seputar teknik krionik ini.

Orang Indonesia punya tingkat keimanan yang tinggi. Gak mungkin warga Indonesia mau mengkhianati takdir yang sudah ditetapkan Tuhan di Lauhul Mahfudz.

Menghidupkan orang mati jelas-jelas mengkhianati takdir dan mengambil peran Tuhan. Teknologi kafir!

Terus orang Indonesia juga punya hasrat yang luar biasa besar bertemu bidadari/a yang siap melayani 24/7 sebagai ganjaran menahan hawa nafsu saat di dunia.

Ngapain hidup lagi kalau terus menderita begini? Toh kehidupan surgawi jauh lebih indah.

Terakhir, apa lagi kalau bukan faktor biaya. Untuk minta dibekukan seluruh badan, biayanya mulai dari 200.000 USD  atau setara nyaris 3 miliar Rupiah!

Itu belum termasuk biaya transport dari Indonesia dan biaya pengobatan kalau memang obatnya sudah ditemukan. Sekarang, biaya hidup saja susah, ngapain lagi susah-susah menghidupkan orang mati kalau ujung-ujungnya hidup lagi dan makin susah?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Evidensi