Baca Sains Tanpa Sinis
Kenapa Kita Percaya Teori Konspirasi? Berikut Penjelasannya

Kenapa Kita Percaya Teori Konspirasi? Berikut Penjelasannya

Kemunculan virus corona berbarengan dengan berbagai tudingan konspirasi. Banyak sekali teori konspirasi yang tersebar seputar topik ini dan nggak sedikit juga orang yang percaya teori konspirasi.

Mulai dari frekuensi 5G yang dianggap melemahkan imun manusia hingga virus corona adalah buatan segelintir orang untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya dari penjualan vaksin.

Tudingan yang paling popular adalah founder Microsoft, Bill Gates merupakan dalang di balik virus yang saat ini menjangkiti lebih dari 50 juta manusia di seluruh dunia.

Tudingan ini seakan-akan benar setelah Pfizer, perusahaan yang saat ini terdepan dalam memproduksi vaksin Covid-19 ternyata didanai oleh Bill & Melinda Foundation.

Bill Gates dan istrinya Melinda Gates dituding sebagai dalang pandemi oleh penganut teori konspirasi
Bill dan Melinda Gates

Sebetulnya, teori konspirasi ini sudah ada sejak lama. Ada teori yang mengatakan bumi ini datar, terus organisasi rahasia yang mengatur jalannya dunia seperti Freemason, Illuminati dan lain sebagai. Banyak banget pokoknya teori konspirasi yang minim bukti.

Argumen se-kuat apapun sulit untuk meruntuhkan kepercayaan penganut teori konspirasi. Bahkan, meskipun diberikan fakta-fakta ilmiah. Paling-paling nanti dituduh sebagai kaki tangan elit global yang memuluskan agendanya.

Berdebat dengan para penganut teori konspirasi itu mirip dengan berdebat dengan para fanatik agama. Ya, mereka memiliki kesamaan yang serupa.

Pertama, mereka yakin betul ada kekuatan yang ingin menguasai dunia. Entah itu Yahudi, elit global, Illuminati, Freemason dan lain sebagainya. Penguasa dunia itu ingin merusak tatanan yang ada sekarang. Dari agama, negara sampai ke hubungan sosial manusia.

Kedua, mereka yakin kalau satu-satunya sumber kebenaran adalah informasi yang mereka terima. Semua yang bertentangan dengan kepercayaannya adalah salah. Di luar itu adalah antek-antek elit global. Antek-antek Yahudi.

Riset yang dipublikasi dalam jurnal Psychological Review tahun 2001, menyimpulkan bahwa penalaran kita bekerja seperti pengacara yang membela kliennya. Ia akan mencari segala macam pembenaran untuk membebaskan kliennya.

Riset membuktikan bahwa kemauan kita yang lebih didominasi oleh rasa emosional itu akan dicarikan pembenaran logisnya oleh rasionalitas kita. Dengan adanya pembenaran logis, beban kita akan berkurang. Wong, kita merasa benar kok.

Melihat fakta-fakta demikian, rasanya percuma saja kita membeberkan argumen dengan fakta dan data. Manusia hanya percaya dengan apa yang mereka mau percaya.

Mengapa Konspirasi Menarik?

Seperti kata Profesor dalam film Money Heist saat menjalankan operasi Kamerun. Profesor memberi contoh menarik, katanya kalau ada pertandingan sepakbola antara Brazil dan Kamerun, siapa yang paling banyak dapat dukungan? Pasti Kamerun.

Hanya orang Brazil dan pendukung tim Brazil yang mendukung Brazil. Profesor menyatakan bahwa manusia cenderung membela sesuatu yang lebih lemah, underdog. Ini ungkapan yang bagus soal karakteristik manusia.

Hal ini terjadi tahun 2016, saat Leicester City berhasil meraih trofi Premier League, semua orang bersuka cita. Berbeda dengan musim 2019/20 silam, banyak fans sepakbola yang berharap gelar juara Liverpool dibatalkan karena adanya Covid-19.

Tapi, ternyata Premier League tetap berjalan meski tanpa penonton dan Liverpool akhirnya merengkuh gelar Premier League pertamanya.

pemain Liverpool merayakan kemenangan dengan mengangkat trofi
Skuad Liverpool mengangkat Trofi Premier League pertamanya

Teori konspirasi bekerja dengan cara serupa. Selalu ada narasi bahwa kita (manusia kebanyakan) sedang dalam ancaman dari kekuatan yang lebih besar, elit global. Menyebarkan ketakutan. Playing victims.

Saat manusia merasa takut, rasionalitas berkurang. Otak mengaktifkan mode survival. Fight of flight. Teori konspirasi menyerang emosi paling primitif kita untuk bertahan hidup, ketakutan.

Studi neurosains dalam jurnal El Sevier menyatakan bahwa pengambilan keputusan manusia didominasi oleh faktor emosional. Kita lebih mudah yakin pada narasi yang menekankan aspek emosional. Oleh sebab itu, pecandu teori konspirasi akan melawan apa pun argumen yang bertentangan dengan keyakinan mereka.

Sebuah penelitian yang dipublikasi di Applied Cognitive Psychology menemukan bahwa mereka yang percaya pada teori konspirasi cenderung memiliki satu kesamaan: mereka merasa kekurangan kendali atas hidup mereka.

Mereka khawatir dengan ketidakpastian. Teori konspirasi sering kali mencuat saat ketidakpastian dan ketakutan sedang tinggi-tingginya. Seperti pandemi Covid-19. Hal ini wajar, namanya juga lagi krisis.

Ketidakpastian menghasilkan kecemasan. Untuk mengurangi ketidakpastian, orang perlu percaya pada satu cerita yang menawarkan kepastian. Ini lah mengapa teori konspirasi banyak digandrungi. Karena mereka menawarkan kepastian.

Jurnal Cognition yang diterbitkan El Sevier menyimpulkan bahwa orang yang percaya dengan teori konspirasi cenderung memiliki tingkat kemampuan berpikir analitis yang rendah.

Kemampuan berpikir analitis merupakan kemampuan untuk mencari kesinambungan antara sebab akibat sehingga meningkatkan ketepatan penyelesaian masalah.

Nah, karena kemampuan berpikir analitis yang rendah, orang itu jadi kesulitan menemukan sebab akibat antar peristiwa. Jadinya mereka mempercayai suatu narasi untuk mengisi kekosongan sebab akibat tersebut.

Ketika sains belum berkembang, banyak orang mempercayai dewa-dewa untuk mengisi ketidaktahuan mereka pada fenomena alam. Sebut saja masyarakat Yunani kuno yang menganggap badai petir sebagai kemarahan Zeus.

Bukannya mereka bodoh, hanya saja saat itu belum diketahui bahwa hujan adalah fenomena alam yang terjadi dari menguapnya air di muka bumi karena panas matahari. Proses ini disebut evaporasi.

Kemudian uap air itu mengalami proses kondensasi menjadi embun. Ada banyak proses yang terjadi sehingga air bisa jatuh dari langit. Terdengar rumit memang. Apa lagi untuk mereka yang belum punya banyak pengetahuan soal fenomena alam.

Daripada pusing mencari tahu penyebab terjadinya hujan mereka mending langsung percaya saja bahwa itu adalah ulah dewa. Kalau hujan saja mereka kesulitan, apa lagi petir? Ingat, waktu itu belum ditemukan listrik loh.

Otak kita berevolusi memang bukan untuk mencerna data. Itu lah alasan kenapa sains eksak menjadi hal yang sulit kita cerna. Persamaan matematika, rumus, model, teori terlalu sulit untuk kita cerna. Perlu fokus lebih.

Otak kita berevolusi untuk mencerna cerita, narasi atau fiksi, ini adalah satu-satunya kemampuan yang ada pada manusia dan nggak ada pada makhluk lain. Yuval Harari membahas dengan sangat brilian pada bukunya, Sapiens.

Tapi kan teori konspirasi juga membeberkan banyak data? Ya memang betul. Hanya saja, mereka hanya menampilkan data-data yang menunjang narasinya. Nggak menyeluruh.

Semua konspirasi pasti menyisipkan sedikit fakta agar terlihat logis. Tetapi kekuatan teori konspirasi ada pada narasi ketakutan yang disebarkannya. Bukan pada faktanya.

Mengapa Konspirasi Tumbuh Subur?

Selain faktor psikologis yang membuat teori konspirasi digandrungi orang, ada pula faktor-faktor eksternal yang menambah subur teori konspirasi. Salah satunya adalah bobroknya kinerja intitusi resmi, dalam konteks ini pemerintah. Hal ini menimbulkan ketidakpercayaan.

Teori konspirasi muncul dari ketidakpercayaan terhadap informasi yang diberikan pemerintah. Sehingga banyak orang membuat narasi alternatif yang dianggap lebih memuaskan.

Dengan keberadaan sosial media, pemerintah nggak lagi bisa memonopoli informasi. Saat ini setiap orang bisa dengan mudahnya memproduksi informasi lalu disebarkan ke banyak orang.

Kemudian, adanya internet memudahkan siapa pun mendapatkan informasi. Efek Dunning-Krueger berlaku disini. Ketika seseorang mengetahui sedikit tentang sesuatu, dia akan merasa bahwa dirinya paling tahu. Tong kosong nyaring bunyi nya. Kita kenal betul istilah ini. Ilusi ketidaktahuan.

Ilustrasi dari dunning-krueger efek pada penganut teori konspirasi
Sedikit tahu, banyak bicara

Singkatnya, orang bodoh akan merasa paling tahu. Dengan sedikit membaca, orang-orang jadi merasa paling tahu. Setelah itu, mereka dengan kepercayaan diri tinggi menyebarkan informasi itu dengan luas.

Ini lah alasan kenapa yang percaya teori konspirasi menjadi banyak. Sebab, informasi seputar teori konspirasi akan semakin banyak. Lalu, mereka membaca sedikit dan mengulang penyebaran informasinya.

Di sini lah lingkaran setan bagi orang yang percaya teori konspirasi. Rumusnya begini: baca sedikit, merasa paling tahu, percaya diri dan menyebarkannya.

Orang lain yang terpapar teori konspirasi tertarik untuk membacanya. Baru baca sedikit, langsung ikut menyebarkannya. Ya, ini lah dunia kita saat ini. Jadi, jangan heran kalau teori konspirasi dan berita-berita hoaks penyebarannya sangat cepat.

Sedangkan, orang-orang yang kuat membaca jumlahnya sedikit. Dan, mereka lebih hati-hati dalam menyebarkan informasi. Wawasan yang luas menyadarkan orang bahwa yang diketahuinya cuma secuil.

Ada juga faktor dari industri pendidikan, eh institusi maksudnya. Belakangan ini, institusi pendidikan mengubah peran murid – guru menjadi konsumen – produsen. Konsekuensinya, murid yang seharusnya mematuhi dan mendengar apa kata guru jadi semena-mena.

Nggak jarang juga kita mendengar berita orangtua murid yang nggak terima dengan nilai yang diberikan guru pada anaknya. Institusi pendidikan berubah menjadi industri sehingga memperlakukan murid seperti kliennya. Mereka mencari keuntungan.

Jadi, nggak boleh mengecewakan kliennya. Wong, para guru itu bisa terus makan berkat iuran bulanan yang dibayarkan orangtua murid kok.

Fenomena menguatnya berita hoaks, teori konspirasi, fanatisme agama dan lain sebagainya punya satu benang merah yang sama: yaitu para pakar yang mendalami suatu bidang ilmu bertahun-tahun nggak didengarkan lagi.

Ada satu buku yang bagus banget untuk menjelaskan fenomena ini, yaitu The Death of Expertise karangan Tom Nichols. Ini adalah buku yang banyak menjelaskan tentang mengapa para pakar nggak lagi didengarkan, sehingga teori konspirasi ini tumbuh subur.

Buku yang sangat bagus untuk menjelaskan teori konspirasi
Buku “Matinya Kepakaran” karangan Tom Nichols

Kita perlu banyak membaca untuk menangkal tersebarnya teori konspirasi. Bukan hanya membaca, tetapi membaca dengan kritis. Membaca dengan berpikir analitis.

Tulisan ini terbit di Kumparan pada 29 April 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Evidensi