Evidensi

Baca Sains Tanpa Sinis

Resensi Buku Guns, Germs and Steel dari Jared Diamond

10 min read
Jared Diamond menjelaskan dalam bukunya bagaimana peradaban bisa lebih unggul dari peradaban lain

Jared Diamond menjawab beberapa pertanyaan besar yang membayangi pikiran. Kurang lebih begini pertanyaannya:

1. Kenapa peradaban Eropa lebih maju daripada peradaban pribumi di benua lain?

2. Kenapa orang Eropa bisa menjajah benua Amerika yang dihuni orang Indian dan benua Australia yang dihuni orang Aborigin?

3.Kenapa bukan kerajaan Majapahit yang menakhlukkan kerajaan Inggris atau Belanda?

4. Kenapa bukan kerajaan Aztec yang menculik raja Spanyol di abad pertengahan?

Kalau menengok sejarah, usia peradaban Eropa yang maju belum lama-lama amat. Paling baru lima abad terakhir. Sebelumnya, peradaban Islam dari Asia Barat yang lebih maju.

Sebelumnya lagi ada Romawi, Yunani, Mesir, Sumeria dan lain sebagainya. Peradaban Cina juga tidak bisa dilupakan begitu saja, perkembangan teknologinya sempat sangat maju. Malah, hari ini Cina jadi pesaing Amerika Serikat sebagai negara adidaya.

Dipikir-pikir, hampir semua peradaban yang maju berada di satu daratan benua besar Eropa-Asia (setelah ini disebut Erasia). Hanya peradaban Mesir yang berada di benua Afrika, tapi itu juga di Afrika Utara yang bertetangga dengan Erasia.

Penyebutan Erasia dalam tulisan ini juga include Afrika Utara. Secara fisik, orang Afrika Utara juga tidak jauh beda sama tetangganya di Asia Barat dan Eropa. Jangan-jangan, orang kulit putih emang dikasih kelebihan istimewa sama Tuhan? Tidak juga.

Para ahli psikologi sampai sekarang, belum berhasil membuktikan secara meyakinkan bahwa orang non kulit putih memilih IQ yang lebih rendah. Banyak orang kulit hitam yang jadi ilmuwan hebat. Neil deGrasse Tyson yang berkulit hitam saja bisa jadi astrofisikawan tersohor.

Jared Diamond yang melakukan penelitian di Papua selama 33 tahun, menulis: “Ada calon-calon Thomas Alva Edison di antara orang Papua yang saya kenal. Namun mereka mengarahkan kecerdikannya untuk mengatasai masalah-masalah teknologi yang sesuai dengan situasi mereka.” (hal 327)

Sebelum kedatangan penjajah kulit putih, orang Aborigin masih melakukan gaya hidup pemburu-pengumpul yang sudah ditinggalkan mayoritas masyarakat di Erasia sejak ribuan tahun yang lalu. Mereka hidup tanpa pertanian, peternakan, logam, busur dan anak panah, pemukiman tetap, tulisan atau pun pakaian layak yang biasa menjadi ciri menonjol dari peradaban (hal 385).

Padahal, menurut penelitian dari University of Cambridge, orang Aborigin (pribumi Australia) merupakan peradaban tertua di bumi, sekitar 50 ribu tahun yang lalu! Mereka adalah manusia pertama yang migrasi keluar dari Afrika. Lantas, kenapa laju peradaban tiap bangsa bisa berbeda-beda? Kenapa peradaban pribumi Australia stagnan?

Indian Amerika sedikit lebih maju. Mereka hidup dengan pertanian, busur dan anak panah, serta memiliki kerajaan yang cukup besar, Aztec dan Inka.

Tetapi, tetap saja teknologinya jauh di bawah penjajah Eropa yang datang ke benua Amerika, sehingga orang kulit putih dengan mudahnya menakhlukkan mereka setelah Colombus mendarat di sana pada tahun 1492.

Kenapa tidak kebalikannya? Orang Indian Amerika yang berlayar ke Eropa dan menjajah di sana? Terus, kenapa bukan orang Eropa yang jadi budak orang Indian Amerika untuk mengerjakan proyek di Afrika?

Ini pertanyaan yang kadang bikin pusing kepala. Kayaknya, sejarah bakal lebih menarik kalau alternatif-alternatif model begini dipertanyakan.

Nah, itulah pertanyaan-pertanyaan yang mendorong Jared Diamond menulis buku fenomenalnya “Guns, Germs and Steel” pada 1997. Ia merasa tergugah setelah ditanya oleh sahabat Papuanya: “Kenapa kalian orang kulit putih membuat begitu banyak barang berharga dan membawanya ke Papua, tapi kami orang kulit hitam memiliki begitu sedikit barang berharga sendiri?”

25 tahun kemudian, Jared Diamond menulis buku Guns, Germs and Steel untuk menjawab pertanyaan sahabat Papuanya, Yali.

Perbedaan Jalur Sejarah di Berbagai Daerah

Keluarga-keluarga bahagia semuaya mirip; setiap keluarga yang tidak bahagia menjadi tidak bahagia karena caranya sendiri. Familiar dengan kutipan tersebut?

Benar, kutipan itu adalah kalimat pembuka masterpiece penulis agung dari Rusia, Leo Tolstoy yang berjudul “Anna Karenina”. Kalau tidak akrab dengan nama penulis agung itu, artinya Anda mengalami M-B-A (males baca akut).

Dengan kalimat itu, Tolstoy bermaksud mengatakan bahwa agar bahagia, suatu pernikahan harus berhasil dalam banyak aspek berbeda: ketertarikan seksual, kesepakatan mengenai uang, disiplin anak, agama, besan dan ipar, serta masalah-masalah vital lainnya. Kegagalan dalam satu aspek saja bisa menghancurkan kehidupan pernikahan.

Sebenarnya, kalimat di atas hanyalah tafsir Jared Diamond terhadap ungkapan Tolstoy. Hanya Tolstoy yang paham betul maksud sebenarnya dari ungkapan tersebut.

Jared Diamond merasa hukum dalam keluarga yang dimaksud Tolstoy, berlaku juga untuk sebuah peradaban yang sukses. Peradaban bisa sukses kalau memenuhi berbagai aspek, kurang satu saja maka ia bisa dibilang tidak sukses. Sehingga akan kalah dan dilibas oleh peradaban lain.

Judul buku yang diterjemahkan sebagai Bedil, Kuman dan Baja adalah faktor-faktor utama yang memicu kesuksesan peradaban. Namun, Jared Diamond membawa kita menyelami faktor-faktor tidak langsung yang mendorong munculnya bedil, kuman dan baja.

Ia membawa pembaca bukunya untuk menyelam mencari faktor paling dasar yang menentukan kenapa sebuah peradaban sukses.

Berikut adalah faktor-faktor yang paling dasar (menurut saya) tentang alasan dibalik suksesnya peradaban. Faktor dasar ini kemudian mendorong munculnya faktor tidak langsung yang dengan sendirinya mendorong faktor langsung.

Faktor dasar, tidak langsung maupun langsung tidak hanya memiliki satu aspek. Ada sangat banyak sekali aspek dalam faktor-faktor tersebut, kehilangan satu aspek saja maka sebuah peradaban tidak bakal mencapai kesuksesan yang signifikan.

Produksi Pangan

Produksi pangan paling awal terjadi sekitar 11 ribu tahun yang lalu di daerah Asia Barat Daya, saat ini di sekitar Iran dan Irak modern. Baru seumur jagung dalam skala sejarah panjang manusia yang kurang lebih berusia jutaan tahun.

Produksi pangan dapat disingkat sebagai kemampuan manusia dalam mendomestikasi hewan dan tumbuhan liar, revolusi agrikultur. Jared Diamond memasukkan produksi pangan sebagai faktor yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan peradaban.

Selama sebagian besar waktu sejak leluhur manusia modern berpisah dari leluhur kera besar yang ada saat ini, sekitar 7 juta tahun silam, semua manusia di muka bumi mencari makan dengan berburu hewan liar dan mengumpulkan tumbuhan liar, seperti yang dilakukan pribumi Amazon, Australia, dan Papua sebelum penjajah kulit putih datang.

Hanya sedikit sekali manusia di abad 21 ini yang masih bertahan dengan gaya hidup pemburu-pengumpul (walaupun masih ada beberapa suku di pedalaman).

Domestikasi tumbuhan atau pertanian menuntut manusia untuk memiliki lahan tetap. Hal ini secara langsung mempengaruhi gaya hidup manusia yang biasanya nomaden menjadi menetap.

Dengan gaya hidup baru ini, para perempuan bisa memperpendek jarak kehamilan sehingga memiliki lebih banyak anak, karena tidak lagi kerepotan menyapih dan menggendong anaknya ketika harus pindah tempat.

Singkatnya, pemukiman tetap meningkatkan kemampuan manusia dalam reproduksi.

Domestikasi hewan membuat pekerjaan manusia menjadi lebih mudah. Selain dimanfaatkan daging, susu, kulit, dan sebagainya, hewan-hewan itu bisa digunakan untuk dijadikan kendaraan dagang, membajak sawah bahkan untuk perang.

Kotoran hewan juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk dan menambah produktivitas tanaman. Pekerjaan makin mudah, makanan makin berlimpah. Populasi manusia melejit di daerah-daerah yang berhasil memproduksi pangan.

Namun, gaya hidup agrikultur tidak selamanya positif. Hidup bersama hewan ternak dan kotoran-kotorannya menimbulkan berbagai penyakit.

Pembunuh utama umat manusia dalam sejarah modern: cacar, flu, tuberkulosis, malaria, pes, campak dan kolera merupakan penyakit yang berevolusi dari penyakit hewan.

Anehnya, sebagian besar kuman yang bertanggung jawab atas penyakit epidemik itu, saat ini hanya menyerang manusia (hal 245).

Seperti di surat Alam Nasyroh dalam Al-Quran, dibalik kesulitan ada kemudahan. Manusia lama kelamaan berevolusi mengembangkan kekebalan terhadap penyakit-penyakit itu.

Saat orang kulit putih yang sudah kebal dengan kuman-kuman penyakit itu melancong ke benua Amerika, banyak dari orang Indian Amerika mati karena tertular penyakit.

Bahkan, jumlah orang yang mati karena tertular penyakit lebih banyak dari yang dibantai dengan bedil Eropa. Secara tidak langsung, penyakit epidemik membawa berkah bagi peradaban agrikultur.

Manusia di Amerika belum mengembangkan imun untuk mempertahankan diri dari kuman-kuman ternak. Begitu pula manusia di Australia dan Papua. Mereka mudah sekali tertular penyakit dari manusia agrikultur.

Manusia agrikultur adalah mereka yang biasa berinteraksi dengan hewan. Mereka yang terbiasa menghirup aroma hewan ternak dan mengembangkan kekebalan terhadap kuman-kuman yang ditularkan hewan tersebut.

Pertumbuhan populasi mendorong lahirnya lembaga politik yang tersentralisasi. Untuk memudahkan, sebut saja kerajaan. Populasi yang padat meningkatkan persaingan antar sesama yang berebut sumberdaya. Hal ini tentu memunculkan potensi konflik.

Beberapa penelitian menemukan bahwa manusia hanya mampu berhubungan secara intim maksimal dengan 150 orang. Lebih dari itu, manusia sulit untuk berempati sehingga berpotensi menjadi konflik.

Lembaga politik yang tersentralisasi memecahkan masalah itu. Para raja dan bangsawan membuat hukum-hukum untuk menjaga masyarakat agar harmonis dan mengatur distribusi hasil panen agar tidak terjadi keributan.

Kewenangan tersebut membuat raja dan bangsawan terbebas dari pekerjaan memproduksi pangan. Mereka mampu menimbun pangan yang membuatnya kaya raya. Kesenjangan kelas sosial terjadi.

Dengan kekayaannya, para raja bisa membayar orang-orang untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan spesifik. Tentara untuk menjaga kekuasaannya, pengrajin untuk membuat barang mewah, tukang untuk membangun infrastruktur, rohaniwan untuk memberikan pembenaran terhadap kekuasaan dan juru tulis untuk mencatat hasil panen dan informasi penting yang harus diingat secara akurat untuk diteruskan turun temurun, seperti mitos yang diyakini sebuah bangsa tertentu (hal 100).

Tulisan adalah temuan terpenting yang dihasilkan dari lembaga politik yang tersentralisasi. Dengan adanya tulisan, hasil panen bisa dikelola dengan optimal.

Tulisan meyimpan informasi jauh lebih lama dan mendorong temuan-temuan inovatif yang akhirnya menjadi teknologi, seperti bedil yang membuat masyarakat menjadi jauh lebih unggul. Setiap temuan pasti berawal dari temuan sebelumnya, inilah peran penting tulisan.

Misalnya, kita diajari bahwa James Watt menemukan mesin uap pada 1769. Watt mendapatkan gagasan itu sewaktu memperbaiki model mesin uap Thomas Newcomen 57 tahun sebelumnya.

Mesin Newcomen sendiri dibuat berdasarkan mesin uap yang dipatenkan Thomas Savery pada 1698 yang dibuat berdasarkan mesin uap rancangan Denis Papin dari Perancis pada 1680.

Rancangan Papin (yang tidak pernah dibuat) didahului oleh gagasan-gagasan ilmuwan Belanda, Christiaan Huygens.

Kemajuan teknologi pastinya berimbas pada kemajuan sebuah masyarakat. Ini klise. Kita pasti mengamini hal ini. Faktor langsung kenapa orang kulit putih Eropa bisa menjajah berbagai belahan dunia adalah karena perbedaan teknologi, terutama bedil dan baja.

Bayangkan pribumi Aborigin Australia yang hanya menggunakan kapak batu menghadapi tentara Eropa yang menggunakan pedang baja, baju zirah dan helm yang terbuat dari baja! Hasilnya mudah ditebak.

Seperti faktor pertama, terdapat syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi untuk mendorong tumbuhnya faktor kedua ini.

Kenapa benua lain tidak mengalami revolusi agrikultur? Mendomestikasi tumbuhan dan hewan di daerahnya masing-masing sehingga mampu mengembangkan kekebalan terhadap kuman tertentu?

Mengembangkan kerajaan yang tersentralisasi sehingga mampu menemukan teknologi untuk menakhlukkan peradaban lain? Atau menjadikan mamalia besar sebagai kendaraan dagang dan perang?

Ternyata, spesies-spesies tumbuhan dan hewan liar yang bisa didomestikasi (yang sangat penting bagi agrikultur) tidak tersebar merata di setiap benua. Hal ini membuat syarat dan ketentuan untuk produksi pangan tidak terpenuhi, sehingga laju sejarahnya jadi berbeda. Sialnya, kondisi terbaik untuk melakukan produksi pangan ada di dataran Erasia.

Letak Geografis

Faktor kedua yang mempengaruhi peradaban menurut Jared Diamond adalah letak geografis.

Kerajaan-kerajaan di dataran Erasia terletak dalam satu garis lintang yang sama (lihat peta kalau tidak percaya). Sumbu benua Erasia adalah timur-barat.

Dari Inggris hingga Jepang, mereka terhampar dalam satu garis lintang yang tidak jauh beda. Sedangkan, sumbu benua Amerika dan Afrika adalah utara-selatan.

Bagaimana dengan Australia? Sepertinya jarak antara utara-selatannya tidak jauh beda dengan timur-baratnya. Tetapi, Australia terlalu terisolasi dari benua lain sehingga tidak bisa memanfaatkan keuntungan sumbu geografisnya.

Benua terkecil ini terpisah oleh kepulauan Indonesia yang membuat akses untuk berinteraksi dengan manusia di Australia sangat sulit.

Apa konsekuensi dari sumbu geografis ini? Letak geografis dalam satu garis lintang artinya memiliki kesamaan iklim yang menyebabkan kemudahan untuk migrasi.

Karena perbedaan iklim yang ekstrim membuat hewan atau tumbuhan tidak mampu beradaptasi dan mati. Coba saja bawa hewan yang hidup di iklim yang dingin ke Indonesia, kalau tidak diberi perawatan ekstra pasti mati.

Hewan-hewan dan tumbuhan yang didomestikasi di Asia Barat Daya bisa menyebar ke Asia Timur dan Eropa Barat dengan cepat. Begitu juga dengan tumbuhan yang tumbuh di Asia Timur, bisa juga tumbuh di Asia Barat karena kesamaan iklim dan kemudahan kondisi geografisnya.

Hal ini memungkinkan adanya perdagangan dari Cina ke Inggris meskipun terentang sangat jauh, melewati bangsa-bangsa di kawasan mediterania dan Arab.

Bukan hal yang mengagetkan kalau jalur utama perdagangan (silk road) terletak di rentang sumbu timur-barat dalam satu garis lintang yang tidak jauh-jauh amat.

Selain perdagangan, interaksi antar kerajaan memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan yang pelan tapi pasti mendorong kemajuan yang eksponensial.

letak geografis memainkan peran penting menurut Jared Diamond
Ilustrasi sumbu benua dan letak geografis

Kemudahan akses perdagangan berarti terdapat kemudahan interaksi antar kerajaan. Interaksi ini terkadang menimbulkan persaingan dalam berebut sumberdaya. Persaingan antar kerajaan seringkali berujung pada peperangan.

Lebih banyak persaingan mendorong munculnya inovasi. Masyarakat yang gagal berinovasi akan cenderung dibinasakan oleh masyarakat-masyarakat pesaingnya.

Jared Diamond memberikan banyak contoh tentang hal ini, dari kisah suku-suku di kepulauan Polinesia hingga koboi-koboi Amerika Barat.

Kondisi geografis yang tidak terlalu ekstrim di dataran Erasia berjasa besar terhadap kemajuan peradaban di Erasia. Tidak seperti Afrika Utara dan Selatan yang memiliki perbedaan iklim yang signifikan.

Begitu juga Amerika Utara dan Amerika Selatan. Kedua daerah tersebut dipisahkan oleh perbedaan iklim tropis yang sulit dilintasi oleh hewan dan tumbuhan yang berhasil didomestikasi di daerah asalnya. Bahkan, manusia juga sulit melintasi daerah yang perbedaan iklimnya terlalu jauh dari daerah asalnya.

Tumbuhan yang berhasil didomestikasi di Amerika Utara tidak berhasil pindah ke Amerika Selatan. Satu-satunya mamalia besar yang berhasil didomestikasi di Amerika, llama tidak berhasil pindah ke bagian utara.

Ketiadaan interaksi antar kerajaan dan persaingan membuat peradaban di benua Amerika menjadi mandek. Ditambah perbedaan iklim yang ekstrim. Begitu juga yang terjadi di di benua Afrika dan Australia-Papua.

Tanya Kenapa

Apa yang membuat spesies tumbuhan dan hewan liar bisa didomestikasi? Bagaimana kita bisa tahu kalau hanya tumbuhan dan hewan tertentu yang bisa didomestikasi?

Bukankah benua lain memiliki tumbuhan dan hewan liar yang bisa didomestikasi? Seperti bison di Amerika Utara atau Zebra di Afrika. Kenapa pribumi Indian dan Australia gagal mendomestikasi tumbuhan dan hewan lokal di daerahnya?

Kenapa kerajaan besar seperti Inka dan Aztec di benua Amerika tidak mengembangkan teknologi canggih serupa bedil? Lalu, kenapa bukan bangsa Arab atau Persia yang menjajah benua lain?

Bukankah mereka tinggal satu daratan bersama orang kulit putih Eropa? Atau kenapa bukan bangsa India? Yang lebih mungkin lagi; kenapa bukan bangsa Cina? Padahal Cina cukup unggul dalam bidang teknologi.

Ada banyak sekali aspek dan faktor yang perlu dibahas sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Saya menyarankan bagi pembaca yang penasaran untuk segera membaca Guns, Germs and Steel karya Jared Diamond.

Ia memaparkan jawabannya dengan cukup rinci, singkat, padat dan jelas! Yang paling asik adalah: ia menuliskannya dengan bahasa yang renyah dan populer. Sehingga, tidak perlu mengernyitkan dahi terlalu sering ketika membacanya.

Satu hal yang saya suka dari gaya penulisan Diamond adalah ia mengajak kita menyelami rimba belantara faktor-faktor itu dengan pertanyaan.

Sehingga kita selalu penasaran dan dahaga ketika membaca pertanyaan yang disajikan, membuat pikiran semakin lahap saat membaca jawaban-jawaban lugas dan logis yang ditulisnya. Alur logikanya jadi semakin mudah dipahami. Karya luar biasa!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Evidensi