Evidensi

Baca Sains Tanpa Sinis

Resensi Buku Sapiens dari Yuval Noah Harari

5 min read
sapiens karangan yuval harari menjelaskan dengan sangat baik tentang perjalanan sejarah manusia

Buku Sapiens karangan Yuval Noah Harari merupakan buku best-seller yang menjelaskan dengan sangat baik perjalanan sejarah manusia modern, Homo sapiens.

Secara pribadi saya sangat tertarik dengan ilmu tentang manusia. Oleh karena itulah saya mengambil studi psikologi saat kuliah. Berbagai teori tentang manusia dan atribut-atributnya saya pelajari guna memahami apa itu manusia.

Tidak mungkin kita mendapatkan pemahaman menyeluruh tanpa mempelajari sejarahnya, dalam arti sebab-akibatnya. Beberapa teori psikologi itu kurang memuaskan secara pribadi. Singkat cerita, saya mulai mendalami teori evolusi dan menemukan sedikit kepuasan tentang asal-usul manusia.

Berbagai buku tentang evolusi saya lahap dari karya Darwin hingga Dawkins. Dari On the Origins of Species hingga The Selfish Gene. Dua buku yang saya kira wajib dibaca untuk memahami teori evolusi. Tetapi, dua buku itu tidak banyak bicara tentang manusia.

Singkat cerita lagi, saya menemukan buku yang berjudul “Sapiens: A Brief History of Humankind”. Saya mengenal buku ini dari hasil rekomendasi orang terkaya di dunia, Bill Gates. Buku ini lantas menjadi best-seller dimana-mana.

Buku ini langsung membuat mata dan pikiran tak mau lepas. Sejak awal, penulisnya membeberkan gagasan kontroversial dengan bahasa renyah dan analogi yang mudah dicerna.

Si penulis, Harari menuliskan bahwa dulu ada berbagai jenis manusia, paling tidak hingga 20.000 tahun yang lalu, sebelum Sapiens (kita) membunuh sepupu terakhir kita, Homo Neanderthal.

Sebentar. Manusia menurut Harari adalah siapapun yang tergabung dalam genus Homo. Antara lain ada: Erectus, Neanderthal, Denisovan, Soloensis dan lain sebagainya. Ya, ada begitu banyak manusia yang bukan spesies kita!

Apa itu genus? Begini, dalam bahasa ilmiah biasanya kita menyebut nama spesies dengan awalan genus. Contoh: Harimau adalah Panthera (genus) – Tigris (spesies). Singa adalah Panthera (genus) – Leo (spesies). Nah, Homo adalah genus. Spesies yang tergabung dalam genus Homo ya seperti yang saya sebutkan di paragraf sebelum ini.

Harimau dan singa tergabung dalam satu genus tapi berbeda spesies. Garis evolusi mereka berbeda, tapi mereka masih bisa kawin dan menghasilkan keturunan. Google sendiri kenapa bisa begitu. Kalau mau lebih puas, The Selfish Gene dari Richard Dawkins memberikan jawaban yang memuaskan.

Kembali ke pokok pembahasan. Menurut beberapa penelitian dan bukti arkeologis, Homo Sapiens muncul pertama kali di Afrika Timur sekitar 300.000 tahun yang lalu. Tetapi, pengaruh kita terhadap dunia (ya kita, Homo Sapiens) sama sekali tidak berbeda dari simpanse, ubur-ubur, babi, kepiting, dan jenis homo-homo lainnya.

Kita yang saat ini bangga mengaku penguasa planet bumi belum memiliki pengaruh yang signifikan pada dunia saat pertama kali berjalan di bumi ini. Lantas, semuanya berubah sekitar 70.000 tahun yang lalu. Ada apa saat itu?

Saya kira, inilah pertanyaanbesar dalam buku Sapiens. Mengapa Sapiens bisa menjadi penguasa planet ini dalam 70.000 tahun terakhir? Padahal, selama 230.000 tahun pengaruh Sapiens tak ada beda dengan hewan lain.

Revolusi Kognitif

Sapiens mampu bekerja sama dengan jumlah banyak secara fleksibel
Sapiens mampu bekerja sama dengan jumlah banyak secara fleksibel

Yuval Harari menawarkan gagasan baru yang cukup mengejutkan, tetapi argumennya sangat logis dan berdasar. Salah satu kemampuan Sapiens yang membuatnya menjadi penguasa planet adalah kemampuan menciptakan fiksi dan mempercayainya.

Dengan mempercayai fiksi, manusia mampu bekerja sama dalam jumlah besar dan fleksibel. Ini adalah kemampuan yang hanya dimiliki Sapiens. Simpanse mampu bekerjasama dengan fleksibel, tetapi mereka tidak mampu bekerja sama dalam jumlah besar.

Coba saja kumpulkan seribu simpanse di satu aula. Pasti kacau balau. Bagaimana dengan lebah dan semut? Ya, mereka bisa bekerjasama dalam jumlah yang besar. Tapi hierarki mereka statis, tidak fleksibel. Lebah pekerja akan selamanya menjadi pekerja. Ratu semut hanya bisa digantikan oleh ratu semut.

Kerjasama dalam dunia serangga itu terpartri dalam gen. Tidak mungkin ada lebah atau semut pekerja melakukan revolusi dan menyerukan “Para pekerja, bersatulah rebut kekuasaan”.

Kepercayaan akan fiksi membuat manusia mampu mengatasi itu semua. Kita bisa bekerjasama di bawah fiksi yang kita ciptakan sendiri, dari mulai suku, bangsa, agama, negara hingga uang. Inilah revolusi kognitif yang dimulai sejak 70.000 tahun yang lalu.

Revolusi Agrikultur

Revolusi agrikultur membuat sapiens menambah produksi pangan dan meningkatkan populasi
Revolusi agrikultur membuat sapiens menambah produksi pangan dan meningkatkan populasi

Sebelum memasuki 12.000 tahun yang lalu, manusia hidup sebagai pemburu-pengumpul. Hidup mereka nomaden dan egaliter. Setiap anggota kelompok memiliki tugas masing-masing dan membagi apa yang dimilikinya untuk kelangsungan hidup kelompok.

Angka kelahiran sangat rendah, karena membutuhkan tenaga ekstra untuk membesarkan seorang anak. Tangis bayi dan ketergantungannya pada orang dewasa meningkatkan resiko dan memperlambat gerakan kelompok yang hidup nomaden.

Angka kelahiran rendah memberikan manfaat untuk keberlangsungan hidup seluruh anggota kelompok.

Singkatnya, semua berubah setelah manusia berhasil menemukan teknik domestifikasi. Daripada repot-repot mengumpulkan tumbuhan, lebih baik mereka menanam dan membudidayakannya.

Daripada berburu hewan, lebih baik mereka ternak dan mengembangbiakkannya. Tapi, perjalanan menemukan teknik domestifikasi tidak sesingkat dan semudah itu. Namanya juga tulisan rangkuman.

Dengan pertanian dan peternakan, manusia berhasil meningkatkan pasokan makanannya. Dengan kelebihan makanan, manusia tidak harus berpindah-pindah. Manusia hidup menetap. Angka kelahiran meledak.

Kelebihan pasokan makanan membuat segelintir orang harus mengatur distribusi. Muncul elit-elit yang memiliki banyak waktu luang untuk mengatur dan mencatat hasil panen makanan. Fiksi kembali bekerja, elit-elit ini mendapat banyak keuntungan. Fiksinya apa? Ya, sebut saja para raja adalah wakil Tuhan yang harus dipenuhi keinginannya.

Desa-desa kecil tumbuh menjadi kerajaan dan terus tumbuh menjadi imperium. Semakin banyak manusia bersatu di bawah naungan satu sistem politik. Atau, bersatu di dalam fiksi bersama.

Tidak semua orang menjadi petani dan peternak. Kelebihan pasokan makanan membuat orang lain bekerja pada bidang lain.

Muncul tentara, penjahit, pedagang dan lain sebagainya yang bekerja full-time. Lowongan pekerjaan yang mustahil ketika gaya hidup manusia masih nomaden. Inilah revolusi agrikultur yang muncul sejak 12.000 tahun yang lalu sebelum digantikan oleh gaya hidup industri.

Revolusi Saintifik

Revolusi saintifik membuat manusia dapat merekayasa hukum alam
Revolusi saintifik membuat manusia dapat merekayasa hukum alam

Sejarah mencatat, selama ribuan tahun berbagai kerajaan berjaya dan runtuh silih berganti. Tetapi gaya hidup manusia tetap. Mayoritas rakyat harus banting tulang memenuhi pasokan makanan untuk elit kerajaan.

Tentara kerajaan berperang merebut tanah untuk memperluas daerah teritorial. Luasnya daerah teritorial secara langsung artinya semakin banyak tanah yang bisa digarap. Semakin banyak pasokan makanan yang bisa disediakan. Makin bergelimang harta elit kekuasaan. Makin banyak tentara yang bisa dibayar untuk memperkuat kerajaan.

Di tengah kuatnya otoritas kerajaan yang bersetubuh dengan legitimasi agama, muncul percik-percik keraguan yang dimunculkan segelintir orang. Sains yang syaratnya adalah sikap kritis muncul di permukaan.

Sains bekerja di ranah praktis. Hasil ciptaan sains melahirkan mesin yang mendorong revolusi industri. Otot manusia yang diperlukan untuk membajak sawah digantikan oleh mesin. Mesin merevolusi gaya hidup manusia.

Saya kira, kita semua tahu betul efek dari revolusi industri yang dihasilkan sains yang meragu. Revolusi mulai bermunculan, dari revolusi Perancis hingga Amerika. Otoritas mutlak kerajaan mulai dipertanyakan. Muncul negara-negara demokrasi.

Sekarang pun kita masih merasakab revolusi saintifik. Kemajuan sains sebelumnya menggantikan otot manusia. Banyak yang berpindah pekerjaan dari sektor barang ke sektor jasa. Otak manusia tak mungkin digantikan oleh sains di bidang jasa.

Baru-baru ini kemajuan sains dengan artificial intelligence (AI) dan bioteknologi sangat pesat. Kecerdasan manusia pelan-pelan mulai dapat digantikan. Sekali lagi, sains akan merevolusi kehidupan manusia. Ke arah mana? Harari meramalkan ke arah kepunahan.

Analisis tentang masa depan umat manusia dia tuliskan dalam buku yang tak kalah hebatnya dengan judul “Homo Deus”.

Kurang lebih itulah tiga revolusi yang membentuk sejarah umat manusia. Harari membahasnya dengan luar biasa lugas, renyah, ringan dan bergizi komplit. Merugi lah mereka yang mau memahami manusia dengan melewatkan karya-karya penulis sekaligus pemikir terhebat abad ini, Yuval Noah Harari.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Evidensi