Baca Sains Tanpa Sinis
Smartphone, Alat Pemanen Data Pribadi

Smartphone, Alat Pemanen Data Pribadi

Kita pasti pernah punya prasangka bahwa smartphone yang kita bawa kemana-mana bisa mendengar percakapan kita. Prasangka itu bukan tanpa alasan, iklan-iklan yang keluar dari smartphone kita seringkali punya kaitan dengan apa yang baru saja kita perbincangkan dengan teman-teman.

Peneliti dari Northeastern University menemukan bahwa 17.000 aplikasi terpopuler di Android mengumpulkan informasi dari kegiatan yang kita lakukan di layar smartphone, kemudian mengirimkannya pada pihak ketiga.

Dari informasi apa yang kita cari di Google, barang apa yang kita lihat di e-commerce, sampai lagu yang kita dengarkan di Spotify dan film apa yang kita tonton di Netflix.

Tenang saja, nggak ada manusia yang betul-betul mendengarkan percakapan kita atau memantau kita saat melakukan panggilan video. Kecuali kalau kamu penjahat kelas kakap yang sedang buron.

Yang mendengarkan kita adalah kecerdasan buatan dengan algoritma khusus.

Besar kemungkinannya mereka memasang algoritma tertentu untuk mencuri dengar ketika kita mengatakan apa yang kita suka, makanan apa yang hendak kita beli atau tempat apa yang ingin kita tuju.

Kecerdasan buatan sudah diprogram untuk langsung aktif dan mendengar ketika kita mengucapkan kata kunci, sama seperti sapaan “Ok, Google” atau “Hey, Siri” untuk mengaktifkan mode asisten.

asisten virtual yang tersedia di smartphone
Asisten virtual yang paling populer

Jadi, begitu kata kunci itu diucapkan, smartphone langsung merekam pembicaraan kita untuk mengambil data tentang kita.

Misalnya kita lagi ngobrol dan keluar ucapan “Gue lagi pengen beli laptop gaming deh. Apa yang bagus ya?”

Semua informasi tersebut lalu dikumpulkan dan dianalisis sedemikian rupa oleh kecerdasan buatan untuk membuat profil kepribadian dan kecenderungan belanja kita.

Kemudian ia mencarikan iklan yang cocok dengan profil dan kecenderungan kita untuk ditayangkan dalam smartphone.

Nggak perlu waktu lama, saat kamu membuka lini masa Instagram, akan ada banyak iklan berseliweran tentang apa saja yang baru kamu obrolin.

Sebenarnya hal ini bukan rahasia umum. Aplikasi-aplikasi gratis sebetulnya nggak sepenuhnya gratis, biasanya aplikasi tersebut menuntut bayar dengan data-data pribadi. Lagi pula, mana ada sih yang gratis di dunia ini?

Gimana caranya membayar orang-orang yang mengerjakan coding dibalik aplikasi kalau gratis? Dari data-data itu lah mereka mendapat pemasukan. Data-data itu mereka juga ke pengiklan.

Pengiklan di sini juga bukan orang, melainkan algoritma khusus yang haus akan data. Saat ini dalam dunia marketing, terkenal istilah microtargeting. Iklan yang ditargetkan khusus dalam skala kecil yang betul-betul tepat sasaran.

Kumpulan informasi itu kemudian menjadi data raya (big data) yang menjadi bahan bakar untuk analisis kecerdasan buatan. Semakin banyak dan kompleks datanya, semakin tepat pula analisis yang dihasilkan kecerdasan buatan.

Film dokumenter Netflix yang berjudul “The Great Hackmenggambarkan kondisi ini dengan jelas. Data yang diambil dari para pengguna smartphone kemudian dianalisis untuk memprediksi kecenderungan politik seseorang.

Trailer film dokumenter The Great Hack

Dengan modal data ini, orang-orang tersebut dikirimi kampanye-kampanye politik yang sesuai dengan kepribadiannya sehingga mempengaruhi kecederungan memilihnya.

Bukan hanya iklan-iklan komersil, tetapi data pribadi kita juga bisa digunakan untuk memanipulasi kecenderungan politik. Hal ini tentu berdampak buruk terhadap kesehatan demokrasi negara.

Di tengah kemajuan teknologi semacam ini, kita perlu meningkatkan daya kritis kita agar tidak mudah dimanipulasi, baik secara komersil atau pun politik. Selain itu, kita juga perlu untuk meningkatkan awareness terhadap hak-hak digital agar bisa mendorong pemerintah segera meregulasi hal ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Evidensi